Rampok Sajak #3

Memo : Pertanyaan dari Selembar yang Tertahan di Pohon Ketapang Kepada Selembar yang Lain yang Telah Jatuh dan Tersapu Orang

Oleh : Bernard Batubara

sempatkah aku menjadi kering
dan jatuh di halaman itu

sebelum kau terbakar api
dan tumbuh kembali

sebagai daun
di tangkai yang lain?

Fragile #2

Fragile : mudah pecah, rapuh

O… ow… pembobolan ATM kali ini tidak menimpa seorang saja, namun menimpa banyak nasabah, lebih dari satu bank, di beberapa wilayah Indonesia dan dengan jumlah kerugian yang cukup banyak. Kalau dulu lebih banyak dikarenakan kelalaian nasabah, sekarang karena canggihnya teknologi yang digunakan oleh pencuri tengik ini.

Tahukah Anda, apa penyebab orang penting Bank Indonesia langsung turun ke media untuk menjamin nasabah yang dirugikan akibat kelakuan pembobol ATM ini? Moral Suation Policy, kebijakan moneter yang diambil untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap dunia perbankan.

Saya, Anda, siapa pun, yang memegang kartu ATM pasti merasa was-was karena berita ini. Betulkan?

Lagi-lagi masalah psikologi, ketidaktenangan, mulai ada rasa ketidakpercayaan terhadap bank. Yang saya kuatirkan bukan hanya psikologi nasabah, tetapi juga psikologi pemilik bank.

Silahkan coba menempatkan diri Anda sebagai pemilik bank atau pemilik saham suatu bank. Besar kemungkinan, Anda sebagai pemilik modal/saham akan menarik diri dari bisnis perbankan kalau gejala-gejala kerugian sudah ada. Ingat! Pilihan ekonomi yang paling rasional adalah efisiensi modal. Untuk apa menanam modal di bisnis yang tidak lagi menguntungkan apalagi terancam rugi? Berbicara tentang untung rugi bisnis perbankan, didapatkan dari marjin suku bunga simpanan dan suku bunga kredit, bunga sbi atau pengelolaan dana nasabah di reksadana. Lalu dari mana marjin/keuntungan ini didapatkan kalau nasabah pada lari semua?

Investor tarik modal, nasabah rame-rame menarik simpanan. Weleh… weleh… kacau… bahayyyaa…!!! Dampaknya… SISTEMIK. Seperti di tulisan saya sebelumnya. Karena kegagalan keamanan teknologi perbankan, mengakibatkan kerusakan sistem ekonomi menyeluruh. Betapa rapuhnya!!!

Nah, pertanyaannya.

Masihkah Anda percaya dengan Bank???

Kalau pencuri ini ketahuan. Kira-kira hukumannya apa ya??? Dilihat dari akibat yang ditimbulkannya.

Tujuan seseorang menulis sajak.

Sejujurnya, saya kangen untuk menulis sajak. Kangen sekali. Saya mengagumi banyak penyair, juga mengagumi banyak syair, namun, tidak ada cita-cita untuk menjadi penyair, hanya saja ada kebahagiaan tersendiri setelah menyelesaikan sebuah sajak, apalagi ada semacam apresiasi dari pembaca (yg paham atau pun tidak paham) meskipun hanya satu atau dua orang saja.

Saya beberapa kali menulis sajak (kalaupun itu layak disebut sajak) tetapi saya tidak pernah tahu apa tujuan saya menulisnya, hanya menulis begitu saja, keluar begitu saja, bagus tidak bagus, saya tidak peduli, lalu membacanya berulang-ulang. Berangkat dari ketidaktahuan, akhirnya saya bertanya di formspring Hasan Aspahani. “Sebenarnya apa inti dari semua sajak, dan apa tujuan seseorang menulis sajak?” jawabnya sederhana namun tidak pernah terpikirkan sebelumnya, “Inti dari sajak adalah pengucapan, dan tujuan seseorang menulis sajak adalah dia ingin berucap”.

Siapapun yang menulis sajak, sepertinya disentil oleh kejadian-kejadian atau imaji-imaji yang dialaminya.

Dan untuk saya, barangkali membutuhkan kondisi-kondisi ekstrim untuk kembali menulis sajak. Hati yang berbunga-bunga atau menangis sejadi-jadinya.

Ditulis dalam Kiri-Kanan. 10 Komentar »

Fragile

Kali ini, bahan postingan saya agak membosankan untuk dibaca…

Soal… ekonomi!!!

Sebenarnya saya agak bingung harus mulai dari mana dan akan berakhir di mana tulisan ini. Tapi kalau tidak dimulai, bagaimana mau mengakhirinya. Jadi… mulai!!!

Here they are…

Akhir-akhir ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan mengenai kasus bailout bank century. Kontroversial memang. Bukan hanya pada kasus perbankan yang berisiko sistemik yang menghadirkan kontroversi, namun setiap kebijakan ekonomi selalu menghadirkan pro-kontra yang berangkat dari teori dan asumsi yang berbeda pula. Masalahnya, dalam ilmu ekonomi kita tidak bisa menguji dua teori yang berbeda dalam satu kasus di waktu yang bersamaan.

Misalnya, misalnya ya… Data januari sampai oktober 2009 menunjukkan trend suku bunga yang meningkat, krisis dunia yang tidak kunjung selesai, harga saham-saham Indonesia yang menjadi indikator utama mengalami penurunan, melemahnya indeks nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, sementara di awal november 2010 ada satu bank yang kalah kliring, gejala-gejala masyarakat yang sudah mulai menarik dana sudah bermunculan.

Pilihan kebijakan, BAILOUT atau TIDAK???

Pilihan pertama, dari segi pengeluaran, negara memberikan dana talangan yang CUKUP BESAR untuk bank yang kalah kliring, tujuannya supaya sektor perbankan kembali aman, investor tidak kabur, masyarakat tidak menarik dana dan TIDAK ADA RISIKO sistemik. Istilahnya… cari AMAN.

Pilihan kedua, tidak membantu bank gagal (ditutup) dengan asumsi bank ini bank kecil dan jauh dari risiko sistemik. Dari segi pengeluaran, negara hanya mengganti dana masyarakat yang hilang. Hemat biaya, hemat energi. Tapi jika beberapa (baca: hanya beberapa orang saja) investor besar (saya menyebutnya orang yang sangat-sangat kelebihan duit) menarik dananya dari pasar modal, tidak ada lagi yang mau investasi di sektor perbankan karena takut rugi dan tidak percaya lagi pada orang-orang Indonesia untuk mengelola bank, DAMPAK SISTEMIK akan terjadi, masyarakat akan menarik dana, tidak percaya lagi dengan bank, sektor perbankan akan runtuh, usaha menyerap dana dengan cara meninggikan suku bunga tidak akan membuahkan hasil, kredit tidak ada yang dikucurkan karena sulitnya dana, pada akhirnya akan menyerang sektor riil, terjadi hyperinflation, pedagang tidak mau pasang harga rendah karena merasa tidak aman memegang uang rupiah yang nilainya terus merosot, di lain sisi barang dagangan tidak akan laku karena harga yang sangat tinggi, broker pasar modal kocar-kacir, karyawan asuransi pusing karena nasabah tak mampu bayar premi, pemutusan hubungan kerja besar-besaran karena produksi barang dan jasa perusahaan tidak laku-laku. Intinya, roda perekonomian MACET…!!! Coba kita hitung-hitung, berapa biaya yang harus dikeluarkan KALAU dampak sistemik ini betul2 terjadi? Apa masih setara dengan 6,7 trilyun?

Jadi, dalam ilmu ekonomi tidak pernah ada istilah eksperimen dan laboratorium, tidak seperti dokter yang bisa menguji teorinya dengan seekor primata sebelum mencobanya pada manusia. Bukan berarti para ekonom kita ini penakut dan tidak optimis, namun karena bahaya HYPER COST yang diakibatkan karena salah dalam mengambil keputusan.

Namun yang menarik dari informasi Ketua KSSK (Ibu Sri Mulyani) yang mengatakan bahwa angka yang ia setujui adalah 6 ratus milyar lebih, lalu kenapa bengkak menjadi 6,7 trilyun yah? Wah, yang ini saya tidak tahu. Bisa jadi memang ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kalau seperti ini memang harus diusut.

Sekian dulu, tugas memanggil. Tambahan dan editnya belakangan. Publish…!!!

Ditulis dalam Kiri-Kanan. Tag: , . 10 Komentar »

Apapun Itu, Bersyukurlah!

“Perkenalkan, nama saya Bachtiar Rezkiawan Narwis, nama panggilan saya Tiar atau Rizki, usia saya 26 tahun, saya alumni ekonomi Unhas selesai tahun 2007, menikah juli 2008 dan alhamdulillah sampai saat ini, belum dikaruniai anak”. Terlihat ekspresi wajah yang lain agak bingung dgn kalimat terakhir saya, bahkan, dua orang guru besar berbisik pelan “apa saya tidak salah dengar Prof”. “Ya, dia bersyukur sampai sekarang dia belum memiliki anak”

Tidakkah saya ingin memiliki anak? Ingin. Seberapa besar keinginan saya? SANGAT INGIN. Saya ingin kaki kecil lembut menendang-nendang pipi saya saat dia bermain, saya ingin terbangun pukul 2 pagi karena teriak tangisnya, saya ingin keranjang belanjaan iistri saya dipenuhi dengan popok, ketika dia sekolah, saya ingin belajar membaca dan berhitung bersamanya, bahkan saya ingin mendengarnya bercerita, bahwa dia sedang jatuh cinta. Sejauh itulah mimpi saya, sedalam itulah keinginan saya.

Namun ternyata Allah belum berkenan mengabulkan do’a dan mimpi yang satu ini, setiap melihat satu strip testpack, maka tiap saat itulah Allah masih berkata “Belum waktunya”. Lantas, patutkah saya sebagai hamba untuk tidak bersyukur untuk persoalan satu do’a yang tidak terkabulkan?

Apa jadinya jika hidup ini penuh keluhan? Tidak pernahkah kita berpikir sedikit saja, bahwa setiap pilihan Tuhan atas nasib kita adalah yang terbaik untuk kita.

Ah, paling tidak, saya sudah berhasil menarik perhatian orang-orang yang menganggap identitas diri tidak begitu penting di ruangan itu.

Ditulis dalam Kiri-Kanan. 15 Komentar »