Untuk beberapa ruas tulang dan sekantong daging, sebagian orang rela menanggung dosa. Ya, Idul Qurban ini masih diwarnai dengan kecurangan. Maksud saya, ketidakadilan.
Hampir setiap tahun, selama tujuh tahun, saya menerima SK Panitia dari Pengurus Masjid. Seperti rezim saja, orang-orangnya itu-itu saja. Bukan, bukan karena kami sengaja menawarkan diri untuk menjadi panitia, namun karena pengurus masjid percaya bahwa hanya kami yang mampu menaksir berapa kilo yang bisa didapatkan warga berdasarkan jumlah hewan qurban, beratnya dan jumlah penerima daging qurban, sekaligus mendistribusikannya kepada penerima hak secara adil. Sudah dua tahun berturut-turut sy menolak, hanya mengamati, baru tahun ini saya kembali, dengan alasan ketua panitia sudah berganti.
Beberapa bambu sengaja dipasang untuk menutup akses warga agar tidak menggangu panitia bekerja, namun tetap terbuka, supaya terkesan transparan.
Dari awal, saya sdh punya firasat buruk. Di dalam bangunan non-permanen ini tetap aneh. Ada beberapa papan yang tidak menjadi bagian dari bangunan, sangat potensial untuk menutupi kepala hewan, tulang, bahkan daging. Saya ingin memindahkan namun tidak diindahkan oleh panitia yang lain. Katanya, digunakan untuk keperluan mendadak.
Belum apa-apa, masih di awal proses pembagian daging, saya mengangkat papan itu, sudah bertumpuk tulang dan daging, namun begitu seekor sapi lagi akan disembelih, saya harus kembali memandu acara, beberapa menit kemudian daging dan tulang itu raib entah kemana. Bagian keamanan yang terdiri dari tokoh masyarakat ini seakan-akan tidak berfungsi, semacam konspirasi kecil-kecilan, untuk beberapa ruas tulang, untuk sekantong daging yang bukan haknya. Sementara di luar sana ada banyak kaum dhuafa dan penyandang penyakit kusta, menunggu sisa, menunggu berjam-jam, menunggu makan yang lebih enak malam ini. Yang pada akhirnya, pulang dengan tangan kosong karena tidak punya kupon.
Selama tujuh tahun, saya mengangkat masalah ini di muka forum pembentukan panitia dan laporan pertanggung jawaban panitia, selama tujuh tahun pula, hal ini dianggap sebagai masukan.



