Kali ini, bahan postingan saya agak membosankan untuk dibaca…
Soal… ekonomi!!!
Sebenarnya saya agak bingung harus mulai dari mana dan akan berakhir di mana tulisan ini. Tapi kalau tidak dimulai, bagaimana mau mengakhirinya. Jadi… mulai!!!
Here they are…
Akhir-akhir ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan mengenai kasus bailout bank century. Kontroversial memang. Bukan hanya pada kasus perbankan yang berisiko sistemik yang menghadirkan kontroversi, namun setiap kebijakan ekonomi selalu menghadirkan pro-kontra yang berangkat dari teori dan asumsi yang berbeda pula. Masalahnya, dalam ilmu ekonomi kita tidak bisa menguji dua teori yang berbeda dalam satu kasus di waktu yang bersamaan.
Misalnya, misalnya ya… Data januari sampai oktober 2009 menunjukkan trend suku bunga yang meningkat, krisis dunia yang tidak kunjung selesai, harga saham-saham Indonesia yang menjadi indikator utama mengalami penurunan, melemahnya indeks nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, sementara di awal november 2010 ada satu bank yang kalah kliring, gejala-gejala masyarakat yang sudah mulai menarik dana sudah bermunculan.
Pilihan kebijakan, BAILOUT atau TIDAK???
Pilihan pertama, dari segi pengeluaran, negara memberikan dana talangan yang CUKUP BESAR untuk bank yang kalah kliring, tujuannya supaya sektor perbankan kembali aman, investor tidak kabur, masyarakat tidak menarik dana dan TIDAK ADA RISIKO sistemik. Istilahnya… cari AMAN.
Pilihan kedua, tidak membantu bank gagal (ditutup) dengan asumsi bank ini bank kecil dan jauh dari risiko sistemik. Dari segi pengeluaran, negara hanya mengganti dana masyarakat yang hilang. Hemat biaya, hemat energi. Tapi jika beberapa (baca: hanya beberapa orang saja) investor besar (saya menyebutnya orang yang sangat-sangat kelebihan duit) menarik dananya dari pasar modal, tidak ada lagi yang mau investasi di sektor perbankan karena takut rugi dan tidak percaya lagi pada orang-orang Indonesia untuk mengelola bank, DAMPAK SISTEMIK akan terjadi, masyarakat akan menarik dana, tidak percaya lagi dengan bank, sektor perbankan akan runtuh, usaha menyerap dana dengan cara meninggikan suku bunga tidak akan membuahkan hasil, kredit tidak ada yang dikucurkan karena sulitnya dana, pada akhirnya akan menyerang sektor riil, terjadi hyperinflation, pedagang tidak mau pasang harga rendah karena merasa tidak aman memegang uang rupiah yang nilainya terus merosot, di lain sisi barang dagangan tidak akan laku karena harga yang sangat tinggi, broker pasar modal kocar-kacir, karyawan asuransi pusing karena nasabah tak mampu bayar premi, pemutusan hubungan kerja besar-besaran karena produksi barang dan jasa perusahaan tidak laku-laku. Intinya, roda perekonomian MACET…!!! Coba kita hitung-hitung, berapa biaya yang harus dikeluarkan KALAU dampak sistemik ini betul2 terjadi? Apa masih setara dengan 6,7 trilyun?
Jadi, dalam ilmu ekonomi tidak pernah ada istilah eksperimen dan laboratorium, tidak seperti dokter yang bisa menguji teorinya dengan seekor primata sebelum mencobanya pada manusia. Bukan berarti para ekonom kita ini penakut dan tidak optimis, namun karena bahaya HYPER COST yang diakibatkan karena salah dalam mengambil keputusan.
Namun yang menarik dari informasi Ketua KSSK (Ibu Sri Mulyani) yang mengatakan bahwa angka yang ia setujui adalah 6 ratus milyar lebih, lalu kenapa bengkak menjadi 6,7 trilyun yah? Wah, yang ini saya tidak tahu. Bisa jadi memang ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kalau seperti ini memang harus diusut.
Sekian dulu, tugas memanggil. Tambahan dan editnya belakangan. Publish…!!!