Second Life…

Desember 7, 2007

Lama kucari sehela hawa

untuk tenangkan jiwa

Lalu dia ada

kucoba merapat berjarak, sontak dia mendekat

melompati batu runcing yang berteriak di depannya.

Siang itu senyap,

wajahnya memutih di bawah sinar jilbabnya.

Satu nafas sudah cukup untuk mengisi rongga-rongga nyawa

Lalu aku terbangun,

dengan nafasnya,

nafas dari telunjuk Ilahi