Second Life…
Desember 7, 2007
Lama kucari sehela hawa
untuk tenangkan jiwa
Lalu dia ada
kucoba merapat berjarak, sontak dia mendekat
melompati batu runcing yang berteriak di depannya.
Siang itu senyap,
wajahnya memutih di bawah sinar jilbabnya.
Satu nafas sudah cukup untuk mengisi rongga-rongga nyawa
Lalu aku terbangun,
dengan nafasnya,
nafas dari telunjuk Ilahi





Desember 8, 2007 at 6:35 am
Subhanallah,
Maknanya dalem. Syarat dengan pesan ketuhanan. Jiwa melankolis banget gitu lhoo…..
tapii… puisinya buat siapa yaaa….?
: untuk orang yang penasaran sama puisi ini. hehe…
Februari 15, 2008 at 1:22 am
Berarti sika ga jadi tanya dech…. ntar ndak penasaran . Takut jadi sasaran puisinya.
April 16, 2008 at 1:55 am
ini tih tulisan pertamax bos ku