Khuthbah Jum’at
April 25, 2008
Seperti biasa, orang-orang beramai-ramai, tergesa-gesa. Pegawai negeri, pegawai swasta, penjual bakso, tukang becak, pengusaha, mahasiswa, dan preman menuju ke suatu tempat suci. Masjid. Masjid memang terlihat paling ramai pada hari jum’at. Mungkin doktrin-doktrin dari nenek moyang tentang “tiga kali tidak mengikuti sholat jum’at berturut-turut langsung vonis masuk neraka” memang sangat ampuh. Orang yang sholatnya masih terputus-putus sampai preman sekalipun berbondong mencari tempat di Masjid, meski banyak di antara mereka masuk begitu qomat mulai dikumandangkan.
Kali ini sengaja aku datang lebih awal mendahului teman-temanku, karena kalau ketemu mereka langsung diajak ngobrol dan ceramah pun, lewat. Sesampainya di dalam aku mencari lokasi yg agak strategis di dekat tiang supaya bisa lebih santai dan bersandar sambil dengar ceramah. Tiga menit kemudian Pak Ustadz membuka khuthbah pertama dengan do’a Alhamdulillah, alhamdulillahi robbil ‘alamiin… dst. Aku mulai serius mendengarkan. Namun ketika Pak Ustadz menyebut kalimat “pemilihan walikota makassar mendatang…” disusul dengan nama Mr. X sebagai salah satu kandidat yang memiliki kans raksasa, aku pun mulai jengkel melihat wajah manusia di podium itu. Menurutku ini bukan momen politik, bukan tempatnya. Karena khutbah jum’at adalah penyegaran spiritual bagi orang-orang yg haus akan iman. Apalagi khuthbah jum’at adalah komunikasi searah, majelis jamaah tidak mungkin memberi sanggahan kepada khatib. Kalau terus menerus seperti ini, wajar saja para jamaah memilih untuk tidur. Tapi aku tidak tertidur, dan “maaf”, aku juga tidak mendengarkan ceramah, aku lagi senang mengamati para jamaah. Hehe… lucu. Ada yang tidur, ada yang ngobrol sambil bisik-bisik (mungkin soal bisnis), ada yang baca buku, ada yang santai di teras Masjid sambil merokok dan ada seorang yang nolah-noleh memperhatikan jamaah. Itulah aku. Paling tidak aku juga punya kegiatan agar aku tak tertidur, karena kalau tertidur berarti harus ambil wudhu lagi. Dan di podium, Pak Ustadz ngomel-ngomel naninu naninu naninu nyaris tanpa intonasi selama 45 menit. Ini bisa menjadi acara “ngomel naninu fourtyfive minutes non stop”. Mungkin dalam hati Pak Ustads, “Kok jamaah pada tidur?, peduli amat. Bentar lagi dapat pembeli bensin dari Pengurus Masjid”.
Aku sempat me-rewind ingatanku ke buku Salim A. Fillah “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim”. Dia mengangkat satu wacana penting yang sering kali dianggap sepele oleh kebanyakan khatib. “Kembalikan Ruh Khuthbah” katanya sebagai salah satu judul sub bagian. Dia (Salim A. Fillah) menegaskan kalau tema sentral dari khutbah jum’at adalah TAQWA. Iya, satu kata “Taqwa”. Setelah umat manusia menyibukkan diri dengan urusan duniawi selama seminggu kita harus kembali lagi pada persoalan Taqwa, urusan kita dengan Sang Khalik. Om Salim juga menyelipkan salah satu hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim; -Adalah Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam apabila berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya sungguh-sungguh. Beliau bagaikan komandan pasukan perang yang sedang berkata, “Musuh menyerang kalian pada pagi hari” dan “Musuh datang sore-sore”-. Hadits ini menggambarkan ciri Rasul dalam berkhutbah sampai-sampai jamaah bergetar dan ketakutan ketika mendengar kata ALLAH. Subhaanallah…, aku jadi rindu dengan Rasulullah. Ingin aku melihatnya berkhuthbah di depanku. Sempatkah kita tidur jika suasana khutbah seperti itu?
Yang terjadi dewasa ini juga mengenai rangkaian Sholat Jum’at yang panjang. Memakan waktu kurang lebih satu jam dengan pembagian waktu 45 menit untuk khuthbah dan 10 sampai 15 menit untuk Sholat dua rakaatnya. Om Salim sekali lagi mengangkat Hadits Riwayat Muslim; -termasuk orang yang pemahamannya mendalam adalah, khuthbahnya singkat, shalatnya panjang-. Mungkin kita menyangka kalau sholat ala Rasul itu membaca puluhan ayat dan tentunya akan sangat lama jika dibandingkan cara sholat kita, ternyata tidak. Surat yang paling sering dibaca Rasulullah pada Sholat Jum’at adalah Surat Qaaf, Al A’la dan Al Ghaasiyah. Kalau sholat Rasulullah sependek itu, berarti khutbahnya lebih pendek lagi dari itu. Pokoknya rangkaian acara Jum’at itu seharusnya singkat, jelas dan berkesan. Membuat umat rindu akan datangnya Jum’at depan.
Om Salim juga mengutip dari Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury tentang kecerdasan linguistik Rasul, kalau Beliau (Rasullullah SAW) fasih bicaranya, lancar, jelas ucapannya dan jernih kata-katanya, jelas pengucapan, jelas maknanya, rinci, sedikit ditahan, terkadang diulang, mengetahui logat-logat bangsa Arab dan berbicara dengan setiap kabilah sesuai logat masing-masing. Indah bukan??? Ah, jadi tambah rindu sama Rasul. Kapan yah aku ketemu sama Beliau?
Untuk Ibu
April 23, 2008
Aku akan jarang blogwalking. Di mana aku pernah membaca kalimat yg nyaris putus asa ini. Entahlah, aku sudah lupa, yg jelas aku juga demikian. Kalau sekarang bunda sedang bersenang2 dgn speedy-nya, aku malah bersedih2 karena modem cdma-ku hancur dilempar keponakanku yg masih berumur 2 tahun. Jadi untuk mengunjungi blog ini rasanya semakin berat karena harus antri dengan para pecandu game on-line di warnet. Belum lagi duplikat kunci rumah sudah ditarik sama Ibu, sebagai isyarat kalau aku tidak boleh pulang larut lagi. Belum lagi…
Aku paham maksud ibu, itu karena juli mendatang aku akan dinikahkan dengan seorang keturunan hawa dari tanah bugis. Mungkin tak seindah dongeng cinderella tapi aku juga berharap pernikahan ini tak separah legenda siti nurbaya.
Menikah, menikah, menikah. Begitu sakral kata ini, sampai-sampai aku merinding mengucapkannya di usiaku yang masih seperempat abad min 1 ini, yg aku sendiri tidak begitu yakin apa aku siap menghadapinya. Menikah, menikah, menikah. Ini adalah wacana yang paling menggelikan di antara teman-teman sesama bujang yang seumuran denganku meski kami semua menginginkannya. Menikah, menikah, menikah. Terlalu banyak istilah lain yang mengekor di belakang kata suci sekaligus seksi ini. Terlintas dipikiranku tentang hidup, hak dan tanggung jawab jilid 2, cinta, pekerjaan, makan, istri, suami, Ibu, Ayah, anak-anak, dapur, ranjang dan kelambu, budaya, sholat jamaah bareng istri. Kedengarannya sederhana, tapi bagiku ini persoalan mengarungi samudera yg hanya menggunakan sampan.
Aneh rasanya, selama ini kang achoey berusaha keras mencari rusuk kirinya tapi tak kunjung sua. Dan aku, menemukannya tanpa bergerak sedikit pun. Kadang aku berharap Allah berkehendak menukarku dengan orang yg betul-betul siap seperti kang achoey, tapi mengingat ini permintaan Ibu. Aku iyakan, meski hanya dengan niat membahagiakan Ibu di hari tuanya, aku yakin Allah ridho dengan tugas baruku ini, mungkin ini sudah bagian dari rencanaNya. Insya Allah aku siap dengan segala istilah yang ada di belakangnya. Apalagi kini aku sudah memiliki penghasilan, lalu untuk apa aku menundanya.
Aku menganggap ini merupakan fase pembelajaran baru bagiku. Aku sangat mengharapkan dukungan, dan nasihat dari teman-teman, terutama yang sudah menikah dan memiliki tips-tips jitu dalam menjaga hubungan rumah tangga.
Mungkin setelah ini aku akan jarang dan semakin jarang mengunjungi blog teman-teman, tapi selama aku sempat aku akan berkunjung. Karena aku tahu, di blog teman-teman ada banyak nilai hidup yg perlu aku pelajari.
Salam hangat selalu.
Hujan Pura-Pura
April 16, 2008
Kali ini
hujan pura-pura turun
tidak, tapi
dia menitip pesan kering
lewat guntur dan halilintar
Di bumi,
haus manusia
konon karena membungkus dirinya
dengan pura-pura
Masih Dalam Perbaikan
April 13, 2008
Blog ini masih dalam perbaikan. Aku hampir bosen liat bentuknya yg itu-itu aja. Ayo… ayo… siapa yg mau tender proyeknya??? Bagi teman2 yg udah kegatelan mau ngasi komen, tahan dulu sampai renovasinya selesai. Oke, sabar yah…




