Mahar

Mei 29, 2008

Kembali ke soal pernikahan, bagi kebanyakan orang pernikahan adalah suatu kebanggaan tersendiri. Baru dengar isu akan menikah saja ucapan selamat berdatangan dari banyak orang, bahkan dari orang yang belum kita kenal sekalipun. Yang aku tahu tentang inti pernikahan adalah ada ijab kabul, ada imam yang berhak menikahkan ditunjuk oleh KUA, ada wali dan saksi dari tiap mempelai, dan terakhir tentu saja mahar (dalam Islam, Al-quran dan seperangkat alat sholat sudah cukup). Setelah itu, sah. Dan sebagian hal dari dua insan menjadi halal karena yang dulunya bukan muhrim kini menjadi muhrim.

 

Ngomong-ngomong soal mahar, aku akan bercerita sedikit tentang pertemuanku yang singkat dengan seorang ibu di penjual sate madura senin malam kemarin. Ibu ini masih cantik, berjilbab. Berdasarkan lipatan di samping matanya kira-kira umurnya 30-an dan sudah memiliki anak. Waktu aku minta dibungkuskan sate sama penjualnya, ibu ini ngobrol dgn tukang kipas satenya. Dia menggunakan bahasa daerah yang sama dgn penjual sate. Logat mereka sangat kental, khas Madura. Aku tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka, hanya mau belajar sedikit tentang bahasa yang jarang aku dengar ini. Sepertinya yang mereka bicarakan soal pernikahan (ini hanya tebakanku saja, soalnya mereka ngobrol dengan bahasa daerah campur bahasa Indonesia). Tiba-tiba ibu itu menoleh dan bertanya. Mas… mas orang sini ya?”. “Iya bu” kataku. Katanya orang sini maharnya harus tinggi-tinggi ya?” lanjutnya. “Mmm… biasanya iya”, jawabku singkat. Lalu dia bilang “Gini mas, sebaik-baik wanita adalah yang merendahkan maharnya, itu syariat mas. Kalau ada wanita yang meninggikan maharnya, berarti tidak mengikuti syariat”, dia menyebut mahar dengan menegaskan -‘R’- nya. Aku cuma tertegun berpikir sampai dia melanjutkan “Di daerahku, mau 100 ribu kek, 10 ribu. Nikah. Cari istri di sana saja mas, maharnya ga kayak di sini. Mungkin itu juga yang menyebabkan banyak perawan tua di sini” lalu kami tertawa. “Tertarik sih, tapi kejauhan bu. Masa menikah dengan orang sana cuman gara-gara maharnya rendah. Nanti ga bernilai ibadah. Tapi pikir-pikir aku bisa nikah ratusan kali di sana di banding di sini” jawabku agak bercanda lalu kami pun tertawa diikuti penjual sate dan tukang kipasnya. Setelah penjual sate memberikan bungkusan sate dan uang kembalian, aku pamit pulang.

 

Percakapan kami sangat singkat, tapi mengena. Di daerah bugis dan makassar mahar dalam pernikahan adalah hal yang pantang untuk dibicarakan, tapi sudah menjadi rahasia umum kalau mahar di daerahku ini memang tinggi. Bisa berkisar dari 10 juta sampai 100 juta. Tergantung dari garis keturunan, kecantikan fisik, pendidikan atau pekerjaan dan penghasilan dari wanita yang akan dilamar. Jadi jika anda seorang ikhwan yang sudah menyalakan weser untuk akhwat berasal dari bugis dan makassar yang cantik, bersih dan anggun, lalu dia keturunan kesekian kali dari Arrung Palakka atau Sultan Hasanuddin atau Raja-raja bugis dan makassar, kemudian profesinya seorang dokter gigi atau manager di perusahaan swasta yang besar, persiapkan materi anda. Menabunglah sejak dini.

 

Sangat disayangkan memang kalau menikah disamakan dengan transaksi ekonomi. Unsur religinya tertimbun oleh unsur budaya dan gengsi-gengsian. Seakan-akan seorang lelaki telah membeli wanita untuk dijadikan hak milik dengan harga sekian jumlah ‘nol’. Seperti membeli mobil saja.  Semakin tinggi kualitasnya maka semakin tinggi pula harganya. Untung mahar harus tunai, tidak ada yang kredit. Kalau ada, apa kata dunia???

 

Tapi sampai sekarang aku belum habis pikir, kok Ibu itu nanya-nanya tentang mahar? Apa lagi musim ya?

 

 

 

 

*gambar yg kurang cocok dan ga nyambung, diambil dari sini

Peace…

Mei 22, 2008

Hari kebangkitan nasional, tidak ada yang spesial bagiku. Tidak ada perubahan fisik atau mental yang terjadi padaku setelah menonton acara parade di stadion senayan kemarin. Aku coba untuk menerka berapa anggaran yang mereka habiskan untuk acara bangkit-bangkitan ini, tapi aku sendiri tidak tahu negeri ini bangkit dari apa dan berdiri setegak apa setelah ini. Toh aku tetap biasa-biasa saja, satu-satunya perubahan yang terjadi pada diriku adalah sebelum nonton aku punya 2 potong roti, dan setelah nonton rotiku sudah habis.

 

Paradenya memang luar biasa, melibatkan ribuan anak negeri untuk menampilkan sketsa kebudayaan Indonesia disaksikan langsung oleh para petinggi pemerintahan dan elit politik. Indonesia memang negeri yang unik (kayak tahu negeri2 lain aja), pakaian adatnya beda-beda, alat musiknya beda-beda, warna kulitnya beda-beda, bahkan bahasanya juga beda-beda. Yang agak menonjol dari parade itu adalah munculnya TNI like a hero, yang sering tembak sana tembak sini dengan alasan menjaga keamanan dan persatuan Indonesia. TNI sebagai simbol kekuatan militer untuk menjaga kesatuan negara yang memiliki ribuan budaya ini.

 

Konsepnya sama seperti peringatan sebelumnya, Cuma barisannya saja yang terlihat indah, semangat nasionalisme memadati stadion, tapi tidak ada nilai riil yang tersimpan. Aku pikir kenapa tidak ada simbol yang mewakili mahasiswa dalam parade itu, yang tunduk terhadap kekuatan TNI dan sebaliknya, TNI yang sangat menghargai peran mahasiswa sebagai kaum intelektual.

 

Sepertinya semangat nasionalisme tidak terjadi di semua tempat berhubung isu kenaikan BBM bukan lagi wacana sambil minum kopi di kalangan mahasiswa, tapi untuk diteriakkan, dijalan, sambil bawa spanduk dan megaphone. Akibat aksi mahasiswa menutup jalan di perbatasan Makassar dan kota lain, banyak keluarga kuli yang harus kehilangan makan malam. Tidak sampai di toko majikan karena kewalahan menembus macet dengan sepeda engkelnya. Aku kasihan melihat mereka tidak diijinkan lewat oleh mahasiswa, entah apa tujuannya. Bahkan beberapa diantara mereka mendapat selebaran dari mahasiswa yang mereka tidak begitu mengerti isinya. Biasalah, selebaran yang dibagi oleh mahasiswa memang menggunakan bahasa-bahasa tinggi biar terkesan cerdas gitu. Ups… kayaknya ada yang tersinggung, tapi memang itu tujuanku. Aku sama sekali tidak keberatan jika ada mahasiswa yang turun aksi karena aku sendiri pernah melakukannya. Kebenaran versi kita memang perlu untuk diteriakkan, tapi tolong, jangan ganggu aktivitas ekonomi. Karena ini persoalan makan atau tidaknya rakyat kecil. Siapa sebenarnya yang kita bela jika cara demo kita seperti itu. Masyarakat miskinkah?

 

Ah, kenapa aku berbicara tentang BBM, padahal rencananya tentang hari kebangkitan nasional. Tidak nyambung pula paragraf satu dengan paragraf lain. Begitulah diriku, masih amatir soal menulis. Harap maklum. Yang penting posting dulu, editnya belakangan.

 

Peace…

 

*Judul diedit berdasarkan saran om nh18

Angin dari Seberang

Mei 13, 2008

Angin dari seberang

menyambar telinga bengkak

dibawanya kicau burung pincang

adapun mercu suar tak lagi tegak

 

lihatlah,

lelaki tampak gila

bermain dipinggiran

bunga tangisnya asin air

tak sampai nyiur tanah sebelah

padahal buahnya manis-manis, di sana

 

lihat ada lagi,

perempuan cerdas jelita

duduk di kayu basah

auranya menyihir gelombang

menembus karang dermaga

padahal istana pasir rapuh-rapuh, di sana

Maka keduanya memakan dari pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Tuhan memilihnya maka dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk”.

 

Kalimat di atas adalah petikan ayat 121-122 dari Surah Thaahaa dalam Al-Qur’an. Jika anda seorang muslim, sepatutnyalah anda meyakininya. Aku membacanya di salah satu sampul buku yang kubeli rabu kemarin, di tulis oleh Om Agus Mustofa. Tapi bukan ayat ini yang membuat aku tertarik ketika membelinya, aku sudah sering membaca ayat ini. Yang membuat aku tertarik adalah judulnya, “Adam Tak Diusir Dari Surga”. Luar biasa, berani, menantang semua paradigma-paradigma lama dengan menggunakan dalil yang sama. Orang tuaku, nenekku, sering bercerita tentang kisah Nabi Adam AS; dialah manusia pertama, lalu diciptakanlah hawa dari rusuk kirinya, hidup bahagia di surga, lalu iblis menggodanya, Adam dan Hawa terbujuk memakan buah khuldi, end of the story, mereka diusir dari surga. Selesai. Sekilas cerita ini mirip dongeng naga, ataupun legenda malin kundang yang dikutuk jadi batu. Ketika kita mencoba berkata, “Ah, masak iya”. Maka sontak semua menjawab “Kan ada dalam Al-Qur’an”. Ternyata ayat ini ditelan mentah-mentah oleh kebanyakan orang, bahkan ustads-ustads kita, imam-imam kita (maaf, tidak semuanya) bercerita tentang firman Allah ini layaknya sebuah dongeng. Hingga pada akhirnya kasus Nabi Adam menjadi kontroversi dan menjadi perdebatan yang sangat panjang, bahkan banyak yg semakin meragukan kebenaran Al-Qur’an karena belum ada penjelasan ilmiah tentang ayat ini. Sesekali ada yg berkata, “Ini adalah kesalahan Adam dan Hawa, seandainya saja mereka tidak memakan buah khuldi, kita sudah duduk santai, angkat kaki, minum teh sambil ngerokok di surga”. Astaghfirullah…

 

Sebenarnya cara untuk mengikuti cerita dengan baik sederhana saja. Ceritanya tentang apa, kapan terjadinya, dimana, kenapa bisa terjadi dan siapa saja pelakunya. Tapi untuk mempercayainya diperlukan pemahaman mengenai keterkaitan faktor-faktor tadi. Karena bisa saja aku mengarang cerita seperti ini, “Malam tadi, kira-kira jam setengah sembilan malam, almarhum Pak Harto sedang bertanding golf melawan Adolf Hitler di tengah laut merah, dan secara kebetulan Abu Nawas keluar sebagai pemenang karena keberuntungannya”. Apa ada yg berani percaya ketololan ini jika tertulis di dalam kitab suci?. Untungnya, tidak ada yang menuliskannya.

 

Bagaimana sebenarnya Kisah Adam dan Hawa? Bagaimana mungkin iblis menggoda mereka jika kejadiannya di surga? Mungkin Malaikat Ridwan lalai dan ketiduran dalam menjaga surga sampai-sampai Iblis lolos dari pengawasannya. Apa malaikat ikut terlibat? Lalu mengapa malaikat tidak dihukum atas kelalaiannya? Seperti apa buah khuldi itu? Mengapa Allah tidak menjelaskan bau, warna, bentuk dan rasanya secara eksplisit dalam Al-Qur’an? Di akhir ayat dikatakan bahwa Allah menerima taubat Adam, mengapa Adam tidak diangkat kembali ke surga? Mengapa iblis tidak mau bersujud kepada Adam? Apakah iblis tidak takut neraka? Apakah iblis diberi penghargaan setelah berhasil menggoda manusia kelak? (rasa-rasanya aku mirip pembawa acara silet yah?)

 

Mungkin anda sudah memiliki petanyaan-pertanyaan lain yang serupa dengan pertanyaanku, kalau iya. Ya dicari dong. Manusiakan makhluk yang belajar. Aku dah kasi bocoran isbn-nya di judul postingan ini. Di sana aku menemukan jawaban dari sebagian pertanyaan2 bodohku, kesemuanya dikupas secara masuk akal dan hampir tuntas oleh Om Agus, dan sekali lagi, menggunakan dalil yang sama. Itung-itung menambah iman kepada mukjizat yg di bawa oleh Rasulullah.

 

Anda tertarik??? Tafaddhal… Selamat mencari, selamat membaca, selamat berpikir.

 

Catatan :

  • Postingan ini bukan untuk tujuan komersial, karena aku sendiri bukan penjual buku, penerbit, apalagi keluarga Agus Mustofa. Aku hanya seorang muslim yang mencoba mengingatkan muslim yg lain.
  • Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kawan non-muslim yang mungkin sudah negg membaca beberapa postingan terakhirku.
  • Kalau ada yang menemukan cara berkomunikasi dengan Om Agus Mustofa baik melalui chat, email atau blog, tolong beritahu aku. Aku akan sangat berterima kasih, tapi maaf, aku tidak menjanjikan price atas ini.
  • dan satu lagi, hati-hati di jalan :lol:

Jika seorang muslim ditanya di bulan ramadhan “apakah anda berpuasa?” mudah saja kita menebaknya, karena tanpa penelitian pun probabilitas jawaban “iya” lebih tinggi dibanding “tidak”. Itu biasa, karena penduduk Indonesia memang hampir disesaki penganut agama Islam, bahkan banyak penganut agama lain sudah sangat mengerti mengapa seorang muslim berpuasa. Di bulan ramadhan bepuasa lebih mudah dijalankan karena ini merupakan ritual massal, bangun sahurnya rame-rame, apalagi suasananya begitu mendukung hampir di semua tempat, di mall, di kantor, di kampus, dan di sekolah-sekolah hampir semua orang berpuasa, menunggu buka puasa bersama kadang-kadang diselingi dengan gosip “ustadz yg ceramah tadi subuh ganteng yah”. Itulah bulan ramadhan, bahkan lelucon pun dikaitkan dengan aktivitas kerohanian. Wal hasil, tidak sedikit ummat Islam menyelesaikan ibadah ini sebulan penuh kemudian mendeklarasikan kemenangannya yang masih samar-samar itu di hari fitri.

Sangat terasa bahwa di bulan ramadhan frekuensi ibadah kita meningkat, dampaknya kita lebih mudah mengontrol emosi karena semakin dekat dengan Sang Pencipta. Dan menurutku, memang itulah sasaran dari ibadah ini, pengendalian diri dan introspeksi.

Tidak mencoba untuk membohongi diri dengan membantah tuduhan temanku (baca tulisan sebelumnya), tapi aku tetap berniat puasa dan mengikuti sarannya. Kemarin sebelum tidur aku menulis pesan untuk Ibu biar bisa diikutkan sahur. Biasanya Ibu dan Bapak puasa sunnah di hari senin dan kamis. Ternyata puasa sunnah jauh lebih sulit dibanding puasa ketika bulan ramadhan. Orang-orang pada tidur kita malah bagun sahur. Kalau ibu tidak meneteskan air mineral di wajahku mungin aku tidak bangun. Belum lagi di tempat kerja, cobaan datang silih berganti. Mulai dari lelucon temanku “hari gene…puasa?”, kemudian leher jenjang teman akhwatku sampai cumi-cumi goreng dari katering langganan kantor. Untung hari ini komplain tidak begitu banyak. Berarti tidak ada masalah, semuanya ditangani dengan baik oleh kompi yang tidak pernah tidur ini.

Di lain sisi berpuasa memperluas pandangan kita. Pasangan ibu dan anak yang tiap hari duduk di atas istananya yang tersusun dari bekas dos-dos kulkas  dan televisi menjadi perhatianku. Biasanya aku hanya menganggap mereka sebagai manusia-manusia yang kurang beruntung, tapi kali ini pikiranku tidak sesederhana itu. Aku mendengarkan nyanyian sajak perut mereka, aku tahu kasarnya lantai yang menyentuh tumit ibu beranak itu, aku tahu  anak itu masih penasaran tentang makanan apa yang di bawa bapaknya malam ini sepulang dari mengumpul dan menjual sampah yang tidak bisa ditelan bumi. Mereka kagum memandangi baliho raksasa bergambar wajah calon walikota, di bawahnya bertuliskan “Majumi Makassar ta’”. Tapi tentu saja baliho itu tidak mengubris orang-orang ini, yang dia lakukan tetap berdiri tegak melaksanakan tugasnya, menampakkan kumis tajam tuannya yang tidak goyang ditiup angin itu, dengan sombong baliho itu berkata bahwa Makassar sudah maju, sedangkan di depannya ada sekeluarga yang masih tersesat dalam mencari rezeki. Dan aku, hanya bisa memberinya tiga ribu perak mengingat bulan mei masih berjalan selama 24 hari lagi.

Aku sadar kembali bahwa banyak yang telah aku lewatkan dalam memahami realita hidup. Kekuatan berpuasa ternyata bukan sekedar persoalan perut mulut tangan dan telinga. Tapi juga persoalan hati. Idealisme yang mulai terkikis disibuki dengan sistem-sistem yang tertata rapi itu dijawab juga dengan berpuasa. Yang jelas, aku tidak menemukan dampak negatif dari berpuasa. Seketika aku tahu jawaban lelucon temanku tadi “kenapa tidak?!!!