Rabu siang kemarin aku bertemu dengan seorang kawan SMU di gramedia Mall Ratu Indah , dia seorang alumni psikologi di perguruan tinggi negeri di Makassar. Konsentrasi ilmunya memang lebih kepada psikologi remaja, tapi diam-diam dia mencoba membaca karakterku dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang tidak aku sadari. Dia mengambil kesimpulan bahwa aku ini orangnya gampang tertawa, tapi berselang beberapa menit kemudian aku bisa saja tiba-tiba marah, dia juga memvonis aku sebagai seorang yang pencemburu dan suka berganti pasangan. Pikirku, dari mana dia mendapatkan konsep ini, mungkin dari pertanyaan “apakah aku lebih suka bentuk bangun yang memiliki banyak sudut atau yg melingkar?”, atau dari pertanyaan “apakah aku lebih menyukai film komedi atau drama percintaan?”. Entahlah, logikaku tidak sampai ke sana.

Aku merasa penilaiannya tentangku tidak sejalan dengan diriku yang sekarang. Pekerjaanku yang sering berinteraksi dengan banyak orang meskipun via telepon menuntut aku untuk tidak boleh marah, orang-orang yang ada di balik telepon ini adalah orang-orang yang komplain dan marah, aku tidak boleh menjawab aksi marah-marah itu dengan reaksi kemarahan pula. Memang terkadang aku merasa jengkel mendengar keluhan yang hampir sama setiap harinya, tapi aku tidak pernah mengekspresikannya dalam bahasa-bahasa yang tidak sopan, apalagi marah-marah. Dan satu lagi, kurang lebih 4 tahun belakangan ini aku tidak pacaran lagi. Jadi aku hampir lupa cemburu itu seperti apa dan bagaimana. Lalu bagaimana dengan suka berganti pasangan? Kalian tahulah jawabnya, pacaran enggak, nikah dua bulan lagi. Tidak mungkin aku bisa mengganti sesuatu yang tidak aku miliki sebelumnya.

Tapi aku menjawab penilaian itu dengan senyum, perlawanan ide itu tertinggal di kepalaku dan aku cegah untuk keluar dari otakku. Penilaian itu aku anggap sebagai satu masukan baru untuk mengenal diriku sendiri lebih jauh dari sudut pandang orang lain. Sambil berjalan di pelataran parkiran Mall aku sempat bertanya “apakah karakter seseorang bisa diubah?”. Dia hanya menjawab “tentu saja, rajin-rajinlah berpuasa”.

6 Responses to “Hanya Sebuah Kesimpulan”

  1. trijokobs Says:

    siap-siap puasa ah. bair karakterku brubah.

    R say:
    selamt berpuasa :)

  2. masmoemet Says:

    … ” Pekerjaanku yang sering berinteraksi dengan banyak orang meskipun via telepon menuntut aku untuk tidak boleh marah, orang-orang yang ada di balik telepon ini adalah orang-orang yang komplain dan marah, aku tidak boleh menjawab aksi marah-marah itu dengan reaksi kemarahan pula. ” …

    >> oon mode on <<
    jadi yg selalu bilang ” nomor yg anda tuju, sedang tidak aktif ” itu dirimu yah mas ??? :roll:

    R say:
    yg berbicara seperti itukan perempuan, aku ini laki2 :twisted:


  3. puasa
    puas-puasin tuh rasa :lol:

  4. Menik Says:

    beugh… ganti themes lagih :(
    *bener2 blm nemu jati diri* :P

    R say:
    aku kan bunglon di mana2 mnenyesuaikan diri :lol:

  5. Menik Says:

    btw, anak psikologi itu bukan daku kan Q ??? ;)

    R say:
    beugh… sok bangga2in disiplin ilmunya :p

  6. nh18 Says:

    Hmmm …
    Rhyz … sabar-sabar …
    dan tetap tersenyum …
    Ya ..
    Karakter orang bisa berubah … !!!

    R say:
    Insya Allah om nh :)

Leave a Reply