Hari gene…puasa? Kenapa tidak?!!!
Mei 8, 2008
Jika seorang muslim ditanya di bulan ramadhan “apakah anda berpuasa?” mudah saja kita menebaknya, karena tanpa penelitian pun probabilitas jawaban “iya” lebih tinggi dibanding “tidak”. Itu biasa, karena penduduk Indonesia memang hampir disesaki penganut agama Islam, bahkan banyak penganut agama lain sudah sangat mengerti mengapa seorang muslim berpuasa. Di bulan ramadhan bepuasa lebih mudah dijalankan karena ini merupakan ritual massal, bangun sahurnya rame-rame, apalagi suasananya begitu mendukung hampir di semua tempat, di mall, di kantor, di kampus, dan di sekolah-sekolah hampir semua orang berpuasa, menunggu buka puasa bersama kadang-kadang diselingi dengan gosip “ustadz yg ceramah tadi subuh ganteng yah”. Itulah bulan ramadhan, bahkan lelucon pun dikaitkan dengan aktivitas kerohanian. Wal hasil, tidak sedikit ummat Islam menyelesaikan ibadah ini sebulan penuh kemudian mendeklarasikan kemenangannya yang masih samar-samar itu di hari fitri.
Sangat terasa bahwa di bulan ramadhan frekuensi ibadah kita meningkat, dampaknya kita lebih mudah mengontrol emosi karena semakin dekat dengan Sang Pencipta. Dan menurutku, memang itulah sasaran dari ibadah ini, pengendalian diri dan introspeksi.
Tidak mencoba untuk membohongi diri dengan membantah tuduhan temanku (baca tulisan sebelumnya), tapi aku tetap berniat puasa dan mengikuti sarannya. Kemarin sebelum tidur aku menulis pesan untuk Ibu biar bisa diikutkan sahur. Biasanya Ibu dan Bapak puasa sunnah di hari senin dan kamis. Ternyata puasa sunnah jauh lebih sulit dibanding puasa ketika bulan ramadhan. Orang-orang pada tidur kita malah bagun sahur. Kalau ibu tidak meneteskan air mineral di wajahku mungin aku tidak bangun. Belum lagi di tempat kerja, cobaan datang silih berganti. Mulai dari lelucon temanku “hari gene…puasa?”, kemudian leher jenjang teman akhwatku sampai cumi-cumi goreng dari katering langganan kantor. Untung hari ini komplain tidak begitu banyak. Berarti tidak ada masalah, semuanya ditangani dengan baik oleh kompi yang tidak pernah tidur ini.
Di lain sisi berpuasa memperluas pandangan kita. Pasangan ibu dan anak yang tiap hari duduk di atas istananya yang tersusun dari bekas dos-dos kulkas dan televisi menjadi perhatianku. Biasanya aku hanya menganggap mereka sebagai manusia-manusia yang kurang beruntung, tapi kali ini pikiranku tidak sesederhana itu. Aku mendengarkan nyanyian sajak perut mereka, aku tahu kasarnya lantai yang menyentuh tumit ibu beranak itu, aku tahu anak itu masih penasaran tentang makanan apa yang di bawa bapaknya malam ini sepulang dari mengumpul dan menjual sampah yang tidak bisa ditelan bumi. Mereka kagum memandangi baliho raksasa bergambar wajah calon walikota, di bawahnya bertuliskan “Majumi Makassar ta’”. Tapi tentu saja baliho itu tidak mengubris orang-orang ini, yang dia lakukan tetap berdiri tegak melaksanakan tugasnya, menampakkan kumis tajam tuannya yang tidak goyang ditiup angin itu, dengan sombong baliho itu berkata bahwa Makassar sudah maju, sedangkan di depannya ada sekeluarga yang masih tersesat dalam mencari rezeki. Dan aku, hanya bisa memberinya tiga ribu perak mengingat bulan mei masih berjalan selama 24 hari lagi.
Aku sadar kembali bahwa banyak yang telah aku lewatkan dalam memahami realita hidup. Kekuatan berpuasa ternyata bukan sekedar persoalan perut mulut tangan dan telinga. Tapi juga persoalan hati. Idealisme yang mulai terkikis disibuki dengan sistem-sistem yang tertata rapi itu dijawab juga dengan berpuasa. Yang jelas, aku tidak menemukan dampak negatif dari berpuasa. Seketika aku tahu jawaban lelucon temanku tadi “kenapa tidak?!!!“





Mei 8, 2008 at 7:15 am
benar
puasa itu kebutuhan.
apalagi untuk saya: pemuda, yang cukup umur, dan belum menikah
senin kamis nyok!
Mei 8, 2008 at 4:20 pm
: arifrahmanlubis
yuuu…k..!!!
Mei 8, 2008 at 11:54 pm
banyak hikmah dt berpuasa..
Mei 9, 2008 at 11:14 pm
semoga amal ibadah kita diterima Allah
Mei 10, 2008 at 2:01 am
bagus itu
Mei 10, 2008 at 2:47 am
mantap nih postingan
Mei 10, 2008 at 2:48 am
baru nyadar ternyata diau punya potensi kebajikan
Mei 10, 2008 at 6:31 am
Selamat berpuasa!
Mei 11, 2008 at 12:21 am
ini bukan postingan RhyzQ…
palingan kopi paste dari milis…
ga mungkin ini …
Mei 11, 2008 at 11:14 am
selamat menunaikan ibadah puasa
Mei 11, 2008 at 12:52 pm
selamat menunaikan ibadah puasanya degh…
moga2 ikhlas dan tulus ngejalaninnya
thx dah main2 ke rumahku
kok tadi g bawa bingkisan, ntah buah or whateverlah ??
Mei 11, 2008 at 1:48 pm
boleh tuh….
lempar aja ke medan..
ntar tak tangkap degh…
Mei 11, 2008 at 2:29 pm
waaaaah….akhirnya tobat jg dikau nak hehehe… *peace*…
eniweiii….
lg pengen jg nih ikutan puasa…
cuma selalu kelupaan hehehe..
Mei 12, 2008 at 9:20 am
puasa lebih dekat kepada lapar
lapar lebih dekat kepada ke-papa-an
ke-papa-an lebih dekat kepada empati ke sesama
Lebih dekat kepada syukur
Lebih dekat kepada kedhaifan sebagai makhluk
“Hari gene..gak puasa?..”
Lam kenal dari deen
Mei 12, 2008 at 9:22 am
Oya, sy emang dari Makassar ji jg..soal anak Bekasi mah..cmn ngaku2 ji, biar sedikit dapat pengakuan eksistensi di sini. Hehehe
Mei 12, 2008 at 9:48 am
puasa… ikuut
Mei 12, 2008 at 10:25 am
Puasa?… wah ga mo ah soalnya ga kuat sich.
Mei 12, 2008 at 11:35 am
shaum, mengapa tidak….
yuk, meningkatkan kepekaan ….