Peace…

Mei 22, 2008

Hari kebangkitan nasional, tidak ada yang spesial bagiku. Tidak ada perubahan fisik atau mental yang terjadi padaku setelah menonton acara parade di stadion senayan kemarin. Aku coba untuk menerka berapa anggaran yang mereka habiskan untuk acara bangkit-bangkitan ini, tapi aku sendiri tidak tahu negeri ini bangkit dari apa dan berdiri setegak apa setelah ini. Toh aku tetap biasa-biasa saja, satu-satunya perubahan yang terjadi pada diriku adalah sebelum nonton aku punya 2 potong roti, dan setelah nonton rotiku sudah habis.

 

Paradenya memang luar biasa, melibatkan ribuan anak negeri untuk menampilkan sketsa kebudayaan Indonesia disaksikan langsung oleh para petinggi pemerintahan dan elit politik. Indonesia memang negeri yang unik (kayak tahu negeri2 lain aja), pakaian adatnya beda-beda, alat musiknya beda-beda, warna kulitnya beda-beda, bahkan bahasanya juga beda-beda. Yang agak menonjol dari parade itu adalah munculnya TNI like a hero, yang sering tembak sana tembak sini dengan alasan menjaga keamanan dan persatuan Indonesia. TNI sebagai simbol kekuatan militer untuk menjaga kesatuan negara yang memiliki ribuan budaya ini.

 

Konsepnya sama seperti peringatan sebelumnya, Cuma barisannya saja yang terlihat indah, semangat nasionalisme memadati stadion, tapi tidak ada nilai riil yang tersimpan. Aku pikir kenapa tidak ada simbol yang mewakili mahasiswa dalam parade itu, yang tunduk terhadap kekuatan TNI dan sebaliknya, TNI yang sangat menghargai peran mahasiswa sebagai kaum intelektual.

 

Sepertinya semangat nasionalisme tidak terjadi di semua tempat berhubung isu kenaikan BBM bukan lagi wacana sambil minum kopi di kalangan mahasiswa, tapi untuk diteriakkan, dijalan, sambil bawa spanduk dan megaphone. Akibat aksi mahasiswa menutup jalan di perbatasan Makassar dan kota lain, banyak keluarga kuli yang harus kehilangan makan malam. Tidak sampai di toko majikan karena kewalahan menembus macet dengan sepeda engkelnya. Aku kasihan melihat mereka tidak diijinkan lewat oleh mahasiswa, entah apa tujuannya. Bahkan beberapa diantara mereka mendapat selebaran dari mahasiswa yang mereka tidak begitu mengerti isinya. Biasalah, selebaran yang dibagi oleh mahasiswa memang menggunakan bahasa-bahasa tinggi biar terkesan cerdas gitu. Ups… kayaknya ada yang tersinggung, tapi memang itu tujuanku. Aku sama sekali tidak keberatan jika ada mahasiswa yang turun aksi karena aku sendiri pernah melakukannya. Kebenaran versi kita memang perlu untuk diteriakkan, tapi tolong, jangan ganggu aktivitas ekonomi. Karena ini persoalan makan atau tidaknya rakyat kecil. Siapa sebenarnya yang kita bela jika cara demo kita seperti itu. Masyarakat miskinkah?

 

Ah, kenapa aku berbicara tentang BBM, padahal rencananya tentang hari kebangkitan nasional. Tidak nyambung pula paragraf satu dengan paragraf lain. Begitulah diriku, masih amatir soal menulis. Harap maklum. Yang penting posting dulu, editnya belakangan.

 

Peace…

 

*Judul diedit berdasarkan saran om nh18

12 Responses to “Peace…”

  1. jeunglala Says:

    Dulu juga sering ikutan demo, tapi sama-sama mulai kepikiran akibatnya ke ‘perut’ orang laen setelah udah nggak rajin demo dan mulai ‘realistis’ :D
    soal posting yang ga nyambung, saya juga sering banget, tuh. Ya, ya.. sama-sama amatirannya.. hehehe… Itulah gunanya ada editor.. :)
    eh.. saya pertama yaa? :D

    R say:
    bagus deh…
    curhat sesama amatir neh. hehe….

  2. masmoemet Says:

    hmmmm saya kedua :)

    R say:
    duh senengnya…

  3. Menik Says:

    bingung, mau nulis apa buat komen :mrgreen:

    R say:
    bingung juga mau jawab apa :p


  4. bener2 dikau :D

    R say:
    ada apa dgn diriku kang? :roll:


  5. BBM dah naik hari ini
    *hiks hiks*

    R say:
    sabar kang, tiga bulan pertama memang agak berat setelah naiknya BBM. Tp tetap jalnkan bisnisnya??? :mrgreen:


  6. aku juga bingung mo ngomong apaan, yang jelas BBM naik :(

    R say:
    BBM naik??? ya, siklus ekonomi mmg selalu ada tantangannya. apa pernah BBM turun? besok2 juga pasti naik lagi. siapa pun presidennya. piss.. :)

  7. langitjiwa Says:

    gak apa-apa,kang
    jangan bingung2 yah.haha…

    R say:
    makasih kang… :)

  8. wennyaulia Says:

    nulis gak nyambung? yah..sama aja, mas
    saya juga :D

    R say:
    temen gw nih… :mrgreen:

  9. langitjiwa Says:

    aih! kangen aku!
    kemana aja,kang?

    salamku

    ( oh iya,aku juga suka memakai kata2 sederhana itu,kang. lebih tajam! hehe…/balasan komenmu di’kesederhanaan…)

    R say:
    akhir2 ini tidak banyak waktu utk online kang. :(

    makanya aku sering baca sajakmu, orisinil soalnya. trus berkarya bro… :)

  10. insansains Says:

    Saya juga ikut-ikutan bingung mau kasih komentar apa yach??? hehehe.. ^_^

    R say:
    meskipun bingung, ini tetap komentar kan??? :mrgreen:

  11. deen Says:

    Nasionalisme itu…berlepas dari rasa lapar.. hehehe

    R say:
    berarti masalah nasionalisme bisa diselesaikan dengan makan-makan… hehehe

  12. nh18 Says:

    Q …
    bingung judul …
    Kasih judul aja … “Peace” …

    Gampang kan … ??
    Ok?Ok?

    R say:
    ga kepikiran tuh :mrgreen:
    makasih om nh. :)

Leave a Reply