Kembali ke soal pernikahan, bagi kebanyakan orang pernikahan adalah suatu kebanggaan tersendiri. Baru dengar isu akan menikah saja ucapan selamat berdatangan dari banyak orang, bahkan dari orang yang belum kita kenal sekalipun. Yang aku tahu tentang inti pernikahan adalah ada ijab kabul, ada imam yang berhak menikahkan ditunjuk oleh KUA, ada wali dan saksi dari tiap mempelai, dan terakhir tentu saja mahar (dalam Islam, Al-quran dan seperangkat alat sholat sudah cukup). Setelah itu, sah. Dan sebagian hal dari dua insan menjadi halal karena yang dulunya bukan muhrim kini menjadi muhrim.
Ngomong-ngomong soal mahar, aku akan bercerita sedikit tentang pertemuanku yang singkat dengan seorang ibu di penjual sate madura senin malam kemarin. Ibu ini masih cantik, berjilbab. Berdasarkan lipatan di samping matanya kira-kira umurnya 30-an dan sudah memiliki anak. Waktu aku minta dibungkuskan sate sama penjualnya, ibu ini ngobrol dgn tukang kipas satenya. Dia menggunakan bahasa daerah yang sama dgn penjual sate. Logat mereka sangat kental, khas Madura. Aku tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka, hanya mau belajar sedikit tentang bahasa yang jarang aku dengar ini. Sepertinya yang mereka bicarakan soal pernikahan (ini hanya tebakanku saja, soalnya mereka ngobrol dengan bahasa daerah campur bahasa Indonesia). Tiba-tiba ibu itu menoleh dan bertanya. “Mas… mas orang sini ya?”. “Iya bu” kataku. “Katanya orang sini maharnya harus tinggi-tinggi ya?” lanjutnya. “Mmm… biasanya iya”, jawabku singkat. Lalu dia bilang “Gini mas, sebaik-baik wanita adalah yang merendahkan maharnya, itu syariat mas. Kalau ada wanita yang meninggikan maharnya, berarti tidak mengikuti syariat”, dia menyebut mahar dengan menegaskan -‘R’- nya. Aku cuma tertegun berpikir sampai dia melanjutkan “Di daerahku, mau 100 ribu kek, 10 ribu. Nikah. Cari istri di sana saja mas, maharnya ga kayak di sini. Mungkin itu juga yang menyebabkan banyak perawan tua di sini” lalu kami tertawa. “Tertarik sih, tapi kejauhan bu. Masa menikah dengan orang sana cuman gara-gara maharnya rendah. Nanti ga bernilai ibadah. Tapi pikir-pikir aku bisa nikah ratusan kali di sana di banding di sini” jawabku agak bercanda lalu kami pun tertawa diikuti penjual sate dan tukang kipasnya. Setelah penjual sate memberikan bungkusan sate dan uang kembalian, aku pamit pulang.
Percakapan kami sangat singkat, tapi mengena. Di daerah bugis dan makassar mahar dalam pernikahan adalah hal yang pantang untuk dibicarakan, tapi sudah menjadi rahasia umum kalau mahar di daerahku ini memang tinggi. Bisa berkisar dari 10 juta sampai 100 juta. Tergantung dari garis keturunan, kecantikan fisik, pendidikan atau pekerjaan dan penghasilan dari wanita yang akan dilamar. Jadi jika anda seorang ikhwan yang sudah menyalakan weser untuk akhwat berasal dari bugis dan makassar yang cantik, bersih dan anggun, lalu dia keturunan kesekian kali dari Arrung Palakka atau Sultan Hasanuddin atau Raja-raja bugis dan makassar, kemudian profesinya seorang dokter gigi atau manager di perusahaan swasta yang besar, persiapkan materi anda. Menabunglah sejak dini.
Sangat disayangkan memang kalau menikah disamakan dengan transaksi ekonomi. Unsur religinya tertimbun oleh unsur budaya dan gengsi-gengsian. Seakan-akan seorang lelaki telah membeli wanita untuk dijadikan hak milik dengan harga sekian jumlah ‘nol’. Seperti membeli mobil saja. Semakin tinggi kualitasnya maka semakin tinggi pula harganya. Untung mahar harus tunai, tidak ada yang kredit. Kalau ada, apa kata dunia???
Tapi sampai sekarang aku belum habis pikir, kok Ibu itu nanya-nanya tentang mahar? Apa lagi musim ya?
*gambar yg kurang cocok dan ga nyambung, diambil dari sini




Mei 30, 2008 pukul 3:35 am
benar mas..benar..
mahar jangan sampai menyulitkan
*dari seorang yang masih menabung untuk maharnya
Mei 30, 2008 pukul 9:15 am
Saya setuju mas.. bagaimana orang miskin akan mampu membayar mahar….
Alhamdulillah ditempatku tidak seperti itu…
Ikutan nabung ah
Mei 30, 2008 pukul 12:15 pm
ahay… sudah siyap siyap toh ???
Mei 30, 2008 pukul 12:17 pm
ah, aku tahu adat suku ini
padahal dalam islam, mahar itu tak harus yg tinggi nilainya toh ?
smangat ya QQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQ
Mei 30, 2008 pukul 2:43 pm
lama tak ke sini, tulisannya udah sangat banyak. moga bisa kubaca ya?
Mei 31, 2008 pukul 3:45 am
mahar memang wajib hukumya dalam akad nikah….
mengenai masalah banyak sedikitnya memnag tidak dijelaskan dengan detail… minimal ataupun maksimal mahar tersebut….
mungkin 10 ahun lalu mahar Rp.50.000 adalah sangat mewah sekali.. akan tetapi mahar Rp.50.000 saat ini sangat rendah sekali…
seorang wanita dengan mahar tinggi aku pikir mungkin pantas dia inginkan kerena si cowok tersebut akan mendapatkan sesuau yang setimpal dengan apa yang dia keluarkan… bisa saja si cewek anak sholehah, baik, pinter, imannya kuat…
Juni 1, 2008 pukul 12:34 pm
aaahhh.. dah lama g main ke sini..
apa kabar dunia???
nyamfah dulu aahhh…
Juni 1, 2008 pukul 12:34 pm
*ambil tikar*
*leha leha*
IJAAAHHHH (manggil pepiy
)
buatin kopi!!!
Juni 1, 2008 pukul 12:40 pm
naruh cangkir kopi*
*serius.com*
soal mahar, di edisi nikah beberapa waktu yang lalu, dibahas juga nih soal mahar. mahar itu, seharusnya tinggi. yang bisa dimanfaatkan istri ketika ditinggal suami secara tiba2, agar bisa bertahan hidup. hak istri itu…
masalah hadits ini :
memang ada hadits ini. tetapi hadits ini dibuat karena masa itu wanita2 di arab sana meninggikan maharnya sampai tidak masuk di akal…
intinya, mahar ini disesuaikan dengan kemampuan maksimal calon suami. gini, biar kata g boleh ninggiin mahar, tapi lihat dong rasulullah… berapa besar mahar yang dia berikan untuk tiap istrinya? apakah murah?
ge ge ge.. setau presty ya, gitu itu deh..
intinya, mahar itu memang harus sesuatu yang bernilai secara materi. g boleh dijadikan simbol doang…
Juni 1, 2008 pukul 12:45 pm
eh, iya…
jadi inget, waktu calon kk ipar yang sekarang dah resmi jadi kk ipar nanyain mahar ma mbaQ, mbaQ takut bgt memberatkan dia, sehingga tidak berani memutuskan.. tapi apa tanggapan kk iparQ itu? “corien, kamu berhak menentukan mahar apa yang pantas untukmu. selama aku mampu, pasti akan aku penuhi..”
ceile… romantisnyo..
gini lo, ciri lelaki siap mnikah..
trus, akhirnya maharnya adalah emas seberat …gram dan hapalan 15 surat Al-Quran dalam juz 30..
Subhanallah!!
waktu dia lafaz-kan hapalan juz-nya saat penyerahan mahar, satu masjid jadi lengang. tegang mendengarkan lantunan hapalan surat2 itu. mana suratnya yang panjang2 pula… alhamdulillah, lancar.. Allah memang banyak memberikan kemudahan…
Juni 1, 2008 pukul 12:55 pm
mahar magh emang biasanya mahal..
Juni 1, 2008 pukul 3:49 pm
yang penting kan hati kitanya mas…
bukan maharnya…
Juni 1, 2008 pukul 3:50 pm
klo mas tiar aja udah siap tuk nikah, diriku kapan ya
Juni 1, 2008 pukul 4:40 pm
ini bulan juni yah,iya kang ini musimnya,hehehe…
Juni 2, 2008 pukul 12:16 am
baru tahu ada mahar begitu tinggi di sana
thanks kunjungannya ya
Juni 2, 2008 pukul 3:45 am
*oon mode on*
mahar tuh artinya ga murah ya mas
kek BBM sekarang ni ya
>> diguyur aer mas R <<
Juni 2, 2008 pukul 3:47 am
huhhh presty keterlaluan …. sama majikan manggil ijah ???
Juni 2, 2008 pukul 4:25 am
permisi mas, nebeng coment yah
termasuk didaerh suku ku jg begitu, mahar mungkin trbilang mahal. tapi jangan disalahkan dr sisi si akhwat, bisa saja itu kehendak orang tua
, agak sulit memang klo sudah punya beda prinsip dengan orang tua yang seperti itu
…
Juni 2, 2008 pukul 11:24 am
Mahar untuk saya apa bang? … halah
Juni 2, 2008 pukul 1:07 pm
wah kalo semahal itu maharnya bisa bahaya bagi kaum laki2 yang memang sudah siap secara mental untuk nikah.. bisa2 dia malah jadi suka “jajan” untuk menyalurkan hasrat biologisnya…
hehehe jangan dianggap porno ya komengnya..
Juni 3, 2008 pukul 4:02 am
katanya sih semakin baik permintaan mahar sang wanita maka semakin tinggi kualitas ahlaq wanita itu
Juni 3, 2008 pukul 6:43 am
Mahar itu wasilah sj..
Jd pengen diskusi soal ini, tp bakal panjang euy, better lwt chat on line aja kali yak..
Juni 3, 2008 pukul 6:20 pm
wah adat di sana berat juga ya
*saya dulu maharnya cuman dikit, ngutang lagi*
Juni 4, 2008 pukul 4:32 am
nabung……!
Juni 4, 2008 pukul 8:40 pm
eheeem dah mikirin mahar niyyy…
kayaknya dah siap Qi…
Juni 5, 2008 pukul 1:02 am
udah dibeli maharnya?
jadi, maharnya apa bang?
* siapa tau menarik. jadi reperensi
Juni 5, 2008 pukul 5:48 am
saiia nanti minta apa ya?? ^ikutan mikir^
nanti = kalo datang waktu nya
Juni 5, 2008 pukul 9:05 pm
Wah ngomongin mahar ya… Kalo di adat batax namanya sinamot. Huehehehe
Beuh… Mahal amir maharnya orang bugis. Kalo orang batax 10 juta mah udah maharnya untuk level karyawati/PNS/Bidan malah
Juni 6, 2008 pukul 6:46 am
bicara soal mahal ane jadi teringat ama salah satu daerah di sumatra barat
tapi… mahal nggak sih mahar nye?
Juni 6, 2008 pukul 5:20 pm
belum ada space buat nyampah y??
Juni 6, 2008 pukul 5:21 pm
ah lama..
kapan nih???
Juni 6, 2008 pukul 5:21 pm
*garuk2 pala*
Juni 6, 2008 pukul 5:22 pm
btw mas, klo gak ada mahar boleh g sih??
Juni 6, 2008 pukul 5:22 pm
klo maharnya sebuah blog gimana?
Juni 6, 2008 pukul 5:23 pm
atau maharnya sebuah komentar gimana?
Juni 6, 2008 pukul 5:23 pm
tapi masa maharnya komentar sih, ntar dibilang nyampah lagi..
Juni 6, 2008 pukul 5:23 pm
ya minimal maharnya sebuah postinga lah
Juni 6, 2008 pukul 5:24 pm
kok blm dijawab2 sih??
Juni 6, 2008 pukul 5:24 pm
ah lama…
tak tunggu jawabanmu…
Juni 6, 2008 pukul 5:24 pm
**pulang sambil siul2**
Juni 8, 2008 pukul 2:58 pm
ni anak bener2 tukang nyamfah…
*geleng2*
Juni 9, 2008 pukul 10:07 am
Kalo gitu….
sekarang adalah bukti bahwa menikah lebih mahal dari pada melacur…
Iyakann…??
Juni 9, 2008 pukul 10:25 am
jauh…. dan jauh… lebih mahal. dan jauh…. lebih terhormat. Karena semakin mahal maka akan semakin terhormat kedudukanya.
Juni 10, 2008 pukul 2:52 am
mmm…ini jd salah satu hal yg bkn aQ pusinkk…knp sech di makassar hrs mahal2..(aQ cew makassar) yg sbnrnya kurang setuju sm adat Panai (bayar mahar yg mahal di makassar)..Tp ttp aja adat g bs ditentang jg..wuihhh…>10jt…??!! Oh Tuhannnn….
Juni 10, 2008 pukul 2:54 am
tp tujuannya sich sebenarnya, khan biar org tahu…. Nikah itu g gampang n g main2 Ntuh sbnrnya inti dr mahalnya mahar di bbrp daerah tertentu…:)
Juni 10, 2008 pukul 9:07 am
Lapor Mas RhyzQ,
Ponakanku kemarin dikasih tahu ama calon mertuanya..
begini
“Nak Eko, kalau mau nikah sama anak ibu, tolong siapin 30 juta ya..” tanpa rasa bersalah..
Piye to iki..
kmrn ponakanku tak kasih saran.. Cari yg lain.
Juni 16, 2008 pukul 1:55 am
Mahar akan menjadi milik istri,
dan apa yang ia minta, akan menunjukkan kualitas diennya
jika telah tercampur budaya,
akan membuat laki-laki akhirnya,…
rusaklah bangsa,…
November 7, 2009 pukul 8:58 am
Alhmd, sy nikah dgn gadis dokter umum, cantik, pintar, suku sunda. waktu calon mertua ditanya berapa minta, mereka jawab: terserah kamu saja. Jadi sy serahkan 15 juta (th 2001).
Emang nikah ama gadis jawa/sunda enak-gampang-yeah..
sy ga setuju kalo mahar mahal malah awet karena kalo mo cerai mikir duit yg udah keluar. Justru sebaliknya: mahar mahal bikin suasana menantu-mertua dingin karena menantu mikir: ini mertua bangsat jual anak gadis ke aku mahal banget. Trus suami bisa lebih kejam ke istri. Kalo istri macem2 suami tinggal bilang: lu udah gua beli mahal! Nurut, sini!
Sampai skrg sy masih teringat proses nikah sy yg mudah-murah-meriah. Jadi tambah hormat ke mertua & tentunya tambah sayang ke istri…