Kenapa rokok?

Januari 27, 2009

Semua orang sudah tahu sejak munculnya isu mengenai fatwa rokok sudah menimbulkan kontroversi di banyak kalangan. Di TV, koran, dan radio membahas fatwa MUI ttg rokok. Tidak ketinggalan kawan-kawan saya membahas masalah fatwa rokok sambil merokok, dan tentu saja masalah ini jauh lebih hangat dibanding kopi yang baru saja diseduhkan oleh pelayan kafe. Sungguh dari segi hukum maupun agama ini di luar kemampuan saya, apalagi dikait-kaitkan dengan masalah politik. Mungkin, jika permintaan rokok secara umum menurun saya bisa memprediksi berapa lama perusahaan rokok tertentu bisa survive sebelum bangkrut. Tapi siapa yang akan menanyakan hal ini kepada saya yang punya indeks prestasi pas-pasan.

Di tengah debat yang cukup ribut itu , saya hanya diam seperti biasanya, saya sedang berperang dengan kegelisahanku sendiri yang saya tahu kawan-kawan saya yang juga para perokok ini tidak punya solusi tentang kegelisahanku. Jika ditanya mengenai pendapatku, jawaban saya “saya tidak peduli!!!”. Tapi jauh dari lubuk hati saya sebenarnya saya sangat peduli. Hanya saja saya tidak yakin sedang berpihak pada siapa.

Sampai di rumah saya merenung dan berpikir, lalu berpikir dan merenung. Ini sudah yang kesekian kalinya saya merenung dan berpikir lagi tentang kebiasaan burukku. Sebulan saya bisa menghabiskan uang sampai dua ratus lima puluh ribu kurang lebih hanya untuk rokok. Tak jarang saya bertengkar dengan istri saya karena persoalan abu dan asap rokok yang saya buat. Orang tua saya merokok sedikit lebih lama dibanding masa pemerintahan Soeharto, berhenti setelah kecelakaan mobil dan dirawat di RS selama tiga minggu sebelum divonis oleh dokter menderita jantung koroner. Seandainya Tuhan memberi saya pilihan di jaman apa saya bisa hidup, saya akan memilih di jaman sebelum diciptakannya rokok. Rokok, adalah musuhku yang tercinta.

Tanpa fatwa, saya kira orang-orang (dan perokok itu sendiri) juga tidak akan setuju kalau ada anggapan bahwa anak di bawah umur dan wanita hamil yang merokok itu baik. Tapi biarlah, paling tidak ini memperpadat agenda kerja majelis ulama dalam menjalankan fungsinya sebagai kiblat utama bagi mayoritas umat muslim, termasuk saya tentu saja yang masih mengaku muslim.

Sayang sekali ada dugaan bahwa hasil fatwa ini karena adanya strategi politik. Saya menjadi takut kalau dugaan ini benar, kredibilitas MUI akan menurun dan ummat tidak tahu lagi harus berpegang kepada siapa atau apa. Al-Qur’an??? Iqra’… Iqra… Allah tak pernah menyebut rokok dalam Al-Qur’an.

Ah, kenapa saya menulis seperti ini. Ini di luar kemampuanku. Stop. Stop sampai di sini. Saya tidak akan membahas fatwa haram tidaknya rokok. Makaksksjajdnfxnvcxjbhfbdhbvdhv bsaikbvcxhvbcsuhvbuvdvkfgfihddro…

Tunggu, korekku di mana ya???

Hobi ganti themes

Januari 26, 2009

Lihat saja nanti, theme ini tidak akan bertahan lama!

Saking lamanya tidak membuka akun blog ini, saya hampir lupa paswordnya. Bahkan tadinya username yang saya input saja menggunakan username email. Pengaruh kecil setelah menikah adalah menjadi merasa tua dan agak pikun. Payah.

Senang bisa kembali lagi meski tidak tahu betul harus menulis apa untuk memenuhi satu halaman gratis di blog ini. Kalau ditanya bagaimana rasanya bisa kembali ngeblog lagi? Rasanya seperti menemukan buku saku favorit dalam lemari gudang yang pinggir-pinggirnya sudah mulai digigit tikus. Tapi kalau ditanya hal apa yang saya lakukan setelah sukses login di akun blog ini? ganti theme!!

Mungkin tidak berlebihan kalau saya menganggap diri saya ini salah satu blogger yang suka selingkuh mengganti themes.  Sedikit-sedikit ganti theme, saya mengganti theme hampir di setiap kategori postingan saya berubah, tulis puisi berubah, serius berubah, pura-pura lucu berubah lagi. Ya begitulah, sepertinya saya orang yang lebih menyukai penampilan dari pada hal-hal yang esensial, sebagaimana postingan ini masih carut marut seperti biasanya. Seperti memakai dasi tapi tidak tahu filosofi dasi. Hal apa yang lebih menarik dari soal dasi kecuali corak dan warnanya? Ok. Kembali ke soal themes, untuk menggunakan theme saya tetap subyetif, suka-suka saya, meskipun dengan pertimbangan kenyamanan pembaca lain tapi saya lebih memprioritaskan kenyamanan membaca saya sendiri. Toh yang paling sering mengunjungi blog ini adalah saya juga.

Jadi…

mengertilah…

seperti yang saya bilang tadi…

theme ini tidak akan bertahan lama!

Tuh kan, berubah lagi…