Emotional angry song!

Februari 27, 2009

Masalah memang enak carinya di tempat ramai. Pasar atau bahasa moderennya pusat perbelanjaan bisa jadi potensi masalah. Segalanya ada, etnis, agama, pandangan politik, tehnik dagang, iblis, malaikat, ada di pasar. Bisa anda bayangkan berapa macam masalah yang bisa kita timbulkan di dalam sebuah pusat perbelanjaan?

Saya sedang tidak ingin mencari masalah, tapi tetap bersikeras ingin pergi ke pusat perbelanjaan terdekat dari rumah saya berhubung ada keperluan mendadak. Eh, bukan mendadak, tapi bisa juga dibilang mendadak, kalau begitu agak mendadak saja. Kurang lebih 200 meter jaraknya dari rumah saya. Nah biar badan saya sehat, tubuh saya kuat, hematnya, saya jalan kaki.

Hal yang paling sering terjadi ketika kita berada dalam pusat perbelanjaan adalah sering lupa tujuan awal kita, sebenarnya saya maunya langsung ke gramedia, catat buku yg ditarget bulan depan, bungkus, pulang. Tapi, lagi dan lagi. Dalam hati saya “sekalian cuci mata”. Kalau Anda sering membaca buku mengenai strategi pemasaran, Anda akan tahu kalau saya adalah salah satu korban kapitalisme.

Saya mampir ke banyak stand, yang jual sepatu, pakaian, asesoris, barang-barang elektronik, sejauh ini baik-baik saja. Sampai saya mampir ke toko alroji arloji. Seorang mendekati saya dan menawarkan barang. “Mas, jam tangannya mas!”, “Ah, enggak mas. Cuma liat-liat”, “Ini cuma 56 US Dollar, sedang turun”. Untuk orang seperti saya, 56 US Dollar ekuivalen Rp 687.000 adalah jumlah yang besar hanya untuk sebuah jam tangan. “Buatan swiss, anti jamur, bahan-bahannya dari titanium dan perak, tanpa baterai, harganya sedang turun lho mas, cum…”, “Boss!!! Bumi sedang susah, beruntung sampai sekarang Indonesia masih mampu bertahan menghadapi krisis global. Pakar ekonomi kita mati-matian mencari cara untuk menahan devisa, kamu mati-matian jual produk luar negeri!!!” Astaghfirullah, suara saya kedengaran seisi toko. Saya malu bukan main, saya gugup, badanku panas, pikiranku campur aduk. Saya langsung pulang dan merasa semua orang melihat saya seperti binatang langka nyasar di mall. Ini pasti karena kurang tidur. Damn!

Ini jelas salah saya, bukan salah dia. Dia seorang marketer yang wajar-wajar saja menawarkan barang. Mungkin dia sedang terintimidasi oleh atasannya untuk mengejar target penjualan di akhir bulan. Mungkin dia sedang mencari bonus untuk membayar uang arisan istrinya, atau mungkin orang tuanya sedang berada di rumah sakit dan butuh biaya rawat inap. Dia sebagaimana halnya saya dan juga orang lain bisa saja tergulung oleh kerasnya gelombang krisis ekonomi global yang selalu siap-siap masuk ke Indonesia.

Waktu pulang saya tidak sempat meminta maaf. Besok saya harus menyempatkan diri untuk itu. Mungkin mentraktirnya secangkir kopi.

Menikahi anak Bill Gates

Februari 21, 2009

Seorang ayah sangat menginginkan anaknya untuk menjadi suami dari anak perempuan Bill Gates. Akhirnya semua cara pun ia tempuh untuk memenuhi targetnya tersebut.

I. Ayah kepada Anak.

Ayah : Anakku, aku ingin kamu menikah dengan wanita pilihan Ayah.

Anak : Maaf, Ayah! Aku sdh punya pacar dan aku akan menikah dengan wanita pilihanku sendiri.

Ayah : Tapi anakku, wanita ini adalah anaknya Bill Gates.

Anak : Ah, serius Yah? Kalo gitu, oke deh!

II. Ayah kepada Bill Gates.

Ayah : Saya telah memilihkan calon suami untuk anakmu.

Bill Gates : Tapi, anakku masih terlalu muda untuk menikah.

Ayah : Yang aku pilihkan ini adalah Vice President dari Bank Dunia. Beneran ga mau?

Bill Gates : Ah, serius lo? Kalu gitu, oke deh!

III. Ayah kepada President Bank Dunia.

Ayah : Saya ingin menawarkan seorang anak muda yang bisa dijadikan Vice President untukmu.

President : Maaf, dalam waktu dekat ini saya sudah memiliki banyak Calon Vice President.

Ayah : Eits.. tunggu dulu. Anak muda ini adalah menantunya Bill Gates!!

President : Ah, serius lo? Kalau gitu oke deh!

 

(sumber : tabloid bisnis selular)

pohon sajak

Februari 20, 2009

pohon sajakku ini

akar idealismenya telah rapuh

batang kejujurannya bengkok

ranting ritmenya tak pula elok

dedaun kata indahnya gugur gerah

di mana sajak kemenanganku?

seperti aku yang dulu

selalu membawa senyum manis

untuk kekasihku sewaktu pulang

sajakku kini membawa malapetaka

akar dan batangnya mengapung di selat makassar

membuat para nelayan gusar

sajakku ini tak ingin kutemukan

biarlah ranting dan daunnya tertimbun di tanah besar

ditutupi lantai rumah pejabat yang kasar

Gosip

Februari 13, 2009

Kalau anda menemukan blog ini dengan mesin pencari seperti google, yahoo atau yang sejenisnya. Percayalah!!! Anda tidak akan menemukan jawaban yang anda cari. Ini cuma gosip teman-teman saya yang sering kali menggantung selepas secangkir kopi.

  • … dalam hal ini, tuhan tidak pernah menjadi sebagaimana TUHAN jika yang berbicara tentang-NYA adalah manusia.
  • yang menarik dari kasus Pak Mubarak adalah politik mengenai kesalahpahaman dan pelemparan isu akibat keseleo lidah karena sariawan.
  • Harus kita akui kalau Kota Jakarta memang selalu lebih maju dibanding Makassar. Padahal Makassar butuh 10 tahun lagi untuk banjir karena anggaran pemeliharaan bendungan bili-bili di Kab. Gowa tiap tahun selalu dipangkas.
  • Solusi dari obat puyer adalah ketika semua dokter sudah menggantung stetoskopnya di dinding tempat praktek mereka. Maka Insya Allah rakyat Indonesia sehat wal afiat. Mari kita kembali ke Ponari.
  • latar belakang perceraian banyak artis adalah ketidakpuasan (sex and money)
  • yang haram rokok-nya atau merokok?
  • golput bukan berarti tidak memilih, tetapi memilih untuk golput.
  • Mmm, kopinya pas!!!

Para pembaca yang terhormat, maafkan teman-teman saya yang sedikit kurang ajar. Mereka memang mirip ibu-ibu yang doyan gosip sambil beli sayuran. Saya hanya memuat kutipan kata-kata mereka (mungkin mereka juga mengutipnya) yang saya anggap menarik di blog ini.