pohon sajakku ini
akar idealismenya telah rapuh
batang kejujurannya bengkok
ranting ritmenya tak pula elok
dedaun kata indahnya gugur gerah
di mana sajak kemenanganku?
seperti aku yang dulu
selalu membawa senyum manis
untuk kekasihku sewaktu pulang
sajakku kini membawa malapetaka
akar dan batangnya mengapung di selat makassar
membuat para nelayan gusar
sajakku ini tak ingin kutemukan
biarlah ranting dan daunnya tertimbun di tanah besar
ditutupi lantai rumah pejabat yang kasar




Februari 20, 2009 pukul 7:55 pm
nice poems…
salam….
Februari 20, 2009 pukul 9:42 pm
begitulah paradigma kehidupan saat ini… kejujuran dan idealisme telah banyak ternoda.
salam dari blog mahardhika
Februari 21, 2009 pukul 1:14 pm
: dusone
thanks…
: mahardika dewi
hehe… walaikum salam
Februari 27, 2009 pukul 6:12 pm
Cobalah kau kunjungi
tentang sebuah desa tanpa tanda baca
atau perempuan bermata musin semi
atau gadis musin gugur
dan andaikan tak kau jumpai
berjanlah kau kelangit
pasti…
pasti…
dan pasti…
kan kau temukan