Mace

Maret 6, 2009

Kata MACE awalnya merupakan singkatan dari MAma CErewet. Sebuah ikon pemberontakan anak-anak gaul di Makassar untuk ibu/mama/mami/bunda yang sering memperingati anaknya kalau nakal. Ya, awalnya seperti itu, namun lama kelamaan sebutan ‘mace’ ini bergeser kepada ibu-ibu pedagang kaki lima di kampus yang dulunya kami menyebut mereka ‘mama’ sebagian mahasiswa memanggil mereka ‘madam’. Mereka menjual kebutuhan-kebutuhan konsumsi mahasiswa sesuai dengan kemampuan modal mereka masing-masing, karena di tanah itu, di zona yang konon bernuansa ilmiah itu mereka menyandang strata sosial terendah.

Di koran lokal tgl 28 februari kemarin diberitakan bahwa ‘mace’ diberi penghargaan oleh mahasiswa di malam inagurasi mahasiswa baru Fak. Ekonomi Unhas. Senang sekali mendengar berita ini, baru kali ini mereka mendapat perhatian lebih dari mahasiswa untuk sebuah acara ceremonial. Memang mace-mace ini sangat dekat dengan mahasiswa. Mereka adalah teman curhat, sahabat, pembantu, tukang masak, mak comblang, tukang bikin kopi, dan bagi sebagian besar mahasiswa, mereka adalah Ibu! Ibu yang selalu menjaga mahasiwanya, ibu yang selalu menanyakan kondisi perut mahasiswanya, ibu yang selalu ingin melihat mahasiswanya sukses, ibu yang menyayangi mahasiswanya! Jadi kalau ada pihak yang mau coba-coba menyentil dan menurunkan kesejahteraan mereka, maka sontak seluruh mahasiswa merapatkan barisan, DEMONSTRASI!!!

Saya masih ingat salah satu mace di kampus saya bernama Malaniah. Rambutnya ubanan dan kulitnya keriput. Kesimpulannya; sudah tua! . Tidak seperti kebanyakan teman-teman yang lain, saya lebih sering memanggilnya ‘madam malaniah’, ‘madam’ atau yang agak kerenan sedikit ‘mam’ saja. Meskipun banyak tanya, tetapi saya tidak pernah menganggapnya cerewet, karena saya hormat sama dia. Dia ingat betul jadwal kuliah saya. Kalau saya tidak masuk, besoknya pasti bertanya “kenapako tidak masuk kemarin? sakitko? bilang-bilangko kalau ada apa-apa?” (baca: kenapa kamu tidak masuk kuliah kemarin? kamu sakit? kasi tahu saya kalau ada apa-apa”). Sehabis kuliah dan saya kelihatan lelah, belum diminta, air putih sudah tersedia di depan saya. Masuk jam makan siang “nasi campur, bakso atau indomie?” tanyanya. Selesai makan siang “sudah moko sembahyang?” (baca: kamu sudah sholat?). Ketahuan melirik mahasiswi pasti tanyanya “mauko odoki? nanti saya tanyakanko nomor hapenya. hehehe…” (baca: kamu suka sama dia? nanti saya tanyakan nomor HPnya). Kalau dari kejauhan dia melihat kami membuka forum diskusi, maka tak lama kemudian kopi, teh, lengkap dengan kue-kuenya sudah tersedia di hadapan kami.

Entah sejak kapan hubungan kepercayaan antara mahasiswa dan mace terbentuk. Uang milik mace disimpan di dalam sebuah kaleng susu, diletakkan begitu saja di antara jualannya. Tak jarang mace meninggalkan jualan dan uangnya kalau sedang cuci piring atau sholat. Tapi Anda perlu tahu bahwa tak seorang pun mahasiswa yang mau mengambil uang mace. Ini bukan persoalan kasihan, atau karena mace punya keluarga polisi berwajah garang. Tapi ini tentang kepercayaan! Jika seorang mahasiswa mau belanja dan kebetulan mace tidak sedang berada di tempat. Maka dia akan masukkan uang ke dalam kaleng, ambil barang yang mau di beli, dan mengambil sendiri kembaliannya. Anda tidak percaya? Silahkan datang ke ex-kampus saya di UNHAS, buktikan! Lihat sendiri!

Selain itu, meskipun mereka miskin, mace tak pernah mengeluh kalau ada mahasiswa yang utang. Begitupun jika mace butuh uang untuk pulang kampung atau untuk biaya sekolah anaknya, maka mahasiswa tak segan merogoh segepok uang dari kantongnya untuk mace. Seperti itulah hubungan mahasiswa dan mace, semacam simbiosis mutualisme. Indah sekali. Jadi kalau di koran diberitakan bahwa mace mendapat tambahan modal untuk usaha dari sejumlah alumni itu bukan hal yang baru. Tapi mendengar bahwa MACE MENDAPAT PENGHARGAAN DI MALAM INAGURASI MAHASISWA BARU. Pasti mereka senang sekali. Puluhan tahun mereka mendampingi mahasiswa dari generasi ke generasi. Baru kali ini mereka dinaikkan di atas panggung. Bersama petinggi-petinggi akademika. Diberi penghargaan. Silau oleh blitz kamera. Ah, saya belum puas, saya ulangi, Dinaikkan di atas panggung. Bersama petinggi-petinggi akademika. Diberi penghargaan. Silau oleh blitz kamera. LUAR BIASA!!!

I love you madam! I miss you! Tonight, I’ll pray for your happiness.

6 Responses to “Mace”

  1. chocovanilla Says:

    Wah, luar biasa! Jarang ada orang yang menghargai pedagang kaki lima hingga seperti itu. Yang ada di Jkt diuber-uber trantib :(

    :chocovanilla
    begitulah nasib pedagang kaki lima kebanyakan :(

  2. thevemo Says:

    Mereka layak di beri penghargaan…

    btw..kalo dak ada uang boleh ngutang gak?

    : thevomo
    menurut sy jg begitu, kok ngutang sama sy mas erwin?

  3. bokers Says:

    wow,,,,

    kamu memang orang yuang baek,,,,,:smile:

    makasi ya dah mampir

    : bokers
    waduh, kok sy yg baek, ga salah?

  4. Menik Says:

    kalo kamu Pace ? Papa Cerewet ? :-”

    : bunda menik
    iya, saya pace, papa cakep :mrgreen:

  5. BikPici™ Says:

    wow!! saya kok jadi kpikiran, hmmm.. gmn klo slese kuliah, jualan indomie aja di sono yah? :-? hmmmm.. hmm..

    nice posting!! really!!
    keep writing!

  6. Chic Says:

    waaah jadi penasaran kayak apa.. saya belum pernah berkunjung ke Makasar.. cuma numpang transit doang biasanya.. huhuhu

Leave a Reply