Sederhana

Waktunya bermalas-malasan. Bukan tindakan terpuji sebenarnya. Dan memang, tak satu pun buku pengembangan diri yang menganjurkan untuk bermalas-malasan, atau mengobarkan semangat “malas adalah kunci sukses”.

Namun, apapun itu, selalu ada titik jenuh. Senang bekerja, adakalanya akan jenuh. Suka bermain, suatu hari akan bosan. Doyan ngeblog, ada waktu tertentu kita semakin jarang mengunjungi dan mengupdatenya. Lalu setelah itu, kita akan kembali seperti sedia kala. Yang giat kerja akan kembali bekerja, mungkin lebih kreatif dari sebelumnya. Yang suka bermain kembali bermain, bisa lebih hebat dari sebelumnya. Yang suka ngeblog kembali ngeblog, tidak salah jika lebih rajin dari sebelumnya. Dalam kasus ekonomi disebut law of deminishing return.

Dengan semangat bermalas-malasan ini saya sempatkan diri untuk mengunjungi blog sahabat lama. Kang Achoey, Penyair Langit Jiwa, Pakde Tri, Mbak Presti, Teh Muti, Mas Hangga, Bunda Menik dan lain-lain hanya untuk membaca keseharian mereka, sekadar ingin tahu apa mereka baik-baik saja atau terkena musibah (ah, mudah-mudahan tidak). Namun banyak dari mereka yang frekuensi postingannya berkurang, yang dulunya kayak shalat fardu sekarang kayak shalat dhuha. Biasanya mereka mengistilahkan ini sebagai Hiatus.

Apa yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah mungkin ini sebuah design Tuhan akan kehidupan, mungkin yaaa, mungkiiin, agar manusia kembali kepada yang sederhana. Ke titik equilibrium. Ke arah keseimbangan. Karena tak ada satu manusia pun yang wah! Rasulullah saja pernah berbuat dosa meski diampuni. Manusia yang dalam Al-Quran sebagai makhluk ciptaan yang paripurna tetap saja akan kembali menuju kesederhanaan. Ini untuk mengingatkan kita bahwa manusia betul-betul sederhana, dan yang sempurna hanyalah Pencipta Kesederhanaan, Maha Sempurna.

Teman, ini hanya sekedar renungan biasa di hari yang malas. Dan bisa jadi, logika saya terbalik. Mohon dikritisi kalau memang perlu.

Mati Lampu

Mati lampu berjuta rasanya. Ada yang marah, ada yang jengkel, ada yang benci.

Makassar memang hebat kata banyak orang. Membangun tempat bermain terbesar di Asia katanya lagi. Tujuannya, mengundang investor agar rame-rame membuka bisnis di Makassar, bukan tempat bermain. Lah???

Dan sangat beruntung bisnis ini diluncurkan bertepatan dengan krisis listrik di Sulawesi Selatan, ditambah lagi kurangnya kesadaran masyarakat untuk berhemat listrik, tidur sebelum mematikan lampu, AC dan TV. Lalu keesokan harinya terlihat di tempat bermain yang membutuhkan pasokan listrik yang luar biasa besarnya. Begitu tagihan listrik membengkak, komplain. Listrik dipadamkan, menggerutu. What a paradox??? Ah bingung juga liat masyarakat model begini.

Bagi saya, mati lampu adalah anugrah, dan waktunya ngerjain istri. Enjoy aja. Hehehe…

Presiden Kita

Berasumsi positif saja, bahwa presiden baru kita memang benar-benar ingin membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik, dalam segala hal. Dari awal penggandengan calon wakil presiden sampai pembentukan kabinet tak pernah luput dari kritik, namun sejauh ini semuanya sah-sah saja.

Neoliberal yang terus menerus di blow up menjelang pilpres kemarin seakan-akan terdengar cerdas, namun bagi orang yang pernah belajar satu semester saja di jurusan ekonomi istilah neoliberal adalah istilah jadul dan pasti tahu elit politik mana yang sedang bermain dengan bahasa. Lantas ketakutan akan pemerintah yang tidak pro rakyat kecil menjadi komoditas politik yang paling laku, lantaran mall berdiri, pasar tradisional tergusur.

Setelah dimumkan terlihat bahwa struktur pemerintahan semakin gemuk. Semoga membuahkan hasil rakyat yang tidak kurang gizi. Keterwakilan wilayah, partai politik, profesionalisme dan keseimbangan gender menjadi kontrol internal pemerintah dalam setiap pengambilan keputusan, asal tidak ada kongkalikong. Semoga.

Sebuah pengakuan bahwa saya sendiri bukan pemilih SBY Budiono, namun kurang benar rasanya jika tidak mendukung pemerintahan baru yang belum berjalan. Kita lihat saja dulu kebijakan-kebijakan pemerintah terpilih. Lalu kita bisa bilang rakyat Indonesia salah pilih atau tidak. Karena setahu saya, sejarah kepemimpinan di Indonesia memang tidak pernah ada yang sempurna.