Cuma nulis doang
Oktober 22, 2009
Berasumsi positif saja, bahwa presiden baru kita memang benar-benar ingin membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik, dalam segala hal. Dari awal penggandengan calon wakil presiden sampai pembentukan kabinet tak pernah luput dari kritik, namun sejauh ini semuanya sah-sah saja.
Neoliberal yang terus menerus di blow up menjelang pilpres kemarin seakan-akan terdengar cerdas, namun bagi orang yang pernah belajar satu semester saja di jurusan ekonomi istilah neoliberal adalah istilah jadul dan pasti tahu elit politik mana yang sedang bermain dengan bahasa. Lantas ketakutan akan pemerintah yang tidak pro rakyat kecil menjadi komoditas politik yang paling laku, lantaran mall berdiri, pasar tradisional tergusur.
Setelah dimumkan terlihat bahwa struktur pemerintahan semakin gemuk. Semoga membuahkan hasil rakyat yang tidak kurang gizi. Keterwakilan wilayah, partai politik, profesionalisme dan keseimbangan gender menjadi kontrol internal pemerintah dalam setiap pengambilan keputusan, asal tidak ada kongkalikong. Semoga.
Sebuah pengakuan bahwa saya sendiri bukan pemilih SBY Budiono, namun kurang benar rasanya jika tidak mendukung pemerintahan baru yang belum berjalan. Kita lihat saja dulu kebijakan-kebijakan pemerintah terpilih. Lalu kita bisa bilang rakyat Indonesia salah pilih atau tidak. Karena setahu saya, sejarah kepemimpinan di Indonesia memang tidak pernah ada yang sempurna.




