Males Nulis Judul

Oktober 30, 2009

Waktunya bermalas-malasan. Bukan tindakan terpuji sebenarnya. Dan memang, tak satu pun buku pengembangan diri yang menganjurkan untuk bermalas-malasan, atau mengobarkan semangat “malas adalah kunci sukses”.

Namun, apapun itu, selalu ada titik jenuh. Senang bekerja, adakalanya akan jenuh. Suka bermain, suatu hari akan bosan. Doyan ngeblog, ada waktu tertentu kita semakin jarang mengunjungi dan mengupdatenya. Lalu setelah itu, kita akan kembali seperti sedia kala. Yang giat kerja akan kembali bekerja, mungkin lebih kreatif dari sebelumnya. Yang suka bermain kembali bermain, bisa lebih hebat dari sebelumnya. Yang suka ngeblog kembali ngeblog, tidak salah jika lebih rajin dari sebelumnya. Dalam kasus ekonomi disebut law of deminishing return.

Dengan semangat bermalas-malasan ini saya sempatkan diri untuk mengunjungi blog sahabat lama. Kang Achoey, Penyair Langit Jiwa, Pakde Tri, Mbak Presti, Teh Muti, Mas Hangga, Bunda Menik dan lain-lain hanya untuk membaca keseharian mereka, sekadar ingin tahu apa mereka baik-baik saja atau terkena musibah (ah, mudah-mudahan tidak). Namun banyak dari mereka yang frekuensi postingannya berkurang, yang dulunya kayak shalat fardu sekarang kayak shalat dhuha. Biasanya mereka mengistilahkan ini sebagai Hiatus.

Apa yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah mungkin ini sebuah design Tuhan akan kehidupan, mungkin yaaa, mungkiiin, agar manusia kembali kepada yang sederhana. Ke titik equilibrium. Ke arah keseimbangan. Karena tak ada satu manusia pun yang wah! Rasulullah saja pernah berbuat dosa meski diampuni. Manusia yang dalam Al-Quran sebagai makhluk ciptaan yang paripurna tetap saja akan kembali menuju kesederhanaan. Ini untuk mengingatkan kita bahwa manusia betul-betul sederhana, dan yang sempurna hanyalah Pencipta Kesederhanaan, Maha Sempurna.

Teman, ini hanya sekedar renungan biasa di hari yang malas. Dan bisa jadi, logika saya terbalik. Mohon dikritisi kalau memang perlu.

Cuma nulis doang

Oktober 22, 2009

Berasumsi positif saja, bahwa presiden baru kita memang benar-benar ingin membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik, dalam segala hal. Dari awal penggandengan calon wakil presiden sampai pembentukan kabinet tak pernah luput dari kritik, namun sejauh ini semuanya sah-sah saja.

Neoliberal yang terus menerus di blow up menjelang pilpres kemarin seakan-akan terdengar cerdas, namun bagi orang yang pernah belajar satu semester saja di jurusan ekonomi istilah neoliberal adalah istilah jadul dan pasti tahu elit politik mana yang sedang bermain dengan bahasa. Lantas ketakutan akan pemerintah yang tidak pro rakyat kecil menjadi komoditas politik yang paling laku, lantaran mall berdiri, pasar tradisional tergusur.

Setelah dimumkan terlihat bahwa struktur pemerintahan semakin gemuk. Semoga membuahkan hasil rakyat yang tidak kurang gizi. Keterwakilan wilayah, partai politik, profesionalisme dan keseimbangan gender menjadi kontrol internal pemerintah dalam setiap pengambilan keputusan, asal tidak ada kongkalikong. Semoga.

Sebuah pengakuan bahwa saya sendiri bukan pemilih SBY Budiono, namun kurang benar rasanya jika tidak mendukung pemerintahan baru yang belum berjalan. Kita lihat saja dulu kebijakan-kebijakan pemerintah terpilih. Lalu kita bisa bilang rakyat Indonesia salah pilih atau tidak. Karena setahu saya, sejarah kepemimpinan di Indonesia memang tidak pernah ada yang sempurna.

Tanpa Judul #1

Juni 7, 2009

Setelah cukup lama menunggu loading, akhirnya done juga. Hidung mampet, koneksi lelet, cukup sudah, saya hampir tidak jadi posting malam ini.

Blog ini sdh seperti ladang kering yang jarang dikunjungi. Maklum, saya ikut-ikutan kena demam facebook beberapa bulan terakhir ini. Soalnya bisa ketemu sama teman-teman dari taman kanak-kanak sampai teman-teman kuliah dulu. Simple, just search it by name, n you got it. Ujung-ujungnya reunian, dari ngopi bareng sampai ngos-ngosan gara-gara #@$%^, maksud saya… gara-gara main futsal.

Back to the topic. Waduh, ini yang saya bingung. Menentukan topik. Kasus Manohara, Bu Prita, ambalat, capres cawapres, artis bertengkar dan lain-lain. Kira-kira seperti itulah garis besar masalah manusia-manusia Indonesia yang coba digambarkan oleh elit-elit media, dan ternyata hampir habis dilahap publik.

Tapi ada juga yang tidak kenal istilah manohara, prita, ambalat dan artis-artis lain (jd utk orang2 yg sering nongol di tipi, jgn berbangga dulu…). Namanya Bu Aminah, usia 62 tahun pedagang baju anak-anak, jualannya sedikit, kiosnya kecil. Saya ketemu di pasar yang diberi nama keren “Sambung Jawa”, letaknya di Makassar, bukan di Jawa. Ibu ini sibuknya minta ampun, setelah subuh sudah buka stand jualannya di pasar sambung jawa, tutup menjelang maghrib. Setelah itu jualannya dipindah ke pasar senggol yang lokasinya tidak jauh dari pasar sambung jawa, lalu pulang sekitar jam setengah sebelas malam. Setiap hari. Omzet yang tidak menentu dan terkadang zero memaksanya untuk berpuasa. “Sekalian ibadah” jawabnya sambil tersenyum. Sementara kredit modal usaha sdh tidak pernah dikucurkan untuknya karena usia dan kendala agunan, kendati kapok dengan tengkulak yang memberi kredit berbunga tinggi.

Saya rasa ini salah satu PR untuk para pemimpin dan calon-calon pemimpin. Silahkan teriak-teriak “Dukung saya…!!!” tapi sesekali melihat ke bawah kalau sudah di atas. Dan bersyukurlah…!!! bersyukurlah…!!! Ini penting…!!! Karena tidak semua orang seberuntung Anda.

April

April 30, 2009

Berhubung koneksi sedang lambat, postingan ini saya persingkat. Niatnya sederhana, cuma mau menulis di akhir bulan April.

Memorabilia

Maret 24, 2009

memorabilia1

Saya sungguh lupa kalau saya berada di dalam foto itu, saya tidak mengingat. Bisa jadi saat ini saya memang berusaha untuk tidak berada dalam foto itu, atau berharap digigit ular berbisa dan mati di tempat sebelum gambar itu di ambil.

“foto jaman jahiliah!” Begitulah kawan saya memberi judul foto itu sebelum menempelkannya di wall facebook saya. Biar pun pengambilannya di alam lepas, tampak bahagia bersama dengan banyak kawan-kawan saya, tapi foto itu sama sekali tidak menceritakan bagian indah dari kehidupan saya. Tidak! Bukan! Salah!

Entah apa maksud kawan saya memberi judul sedemikian klise, mungkin supaya terkesan lucu, atau mungkin juga bahwa memang kami adalah sekelompok orang-orang jahiliah. Oh, salah, maksud saya makhluk-makhluk jahiliah.

Beberapa menit sebelumnya kami mendefinisikan diri kami sebagai senior dan yang selain kami adalah junior. Konsepnya, senior bertanya seputaran disiplin ilmu, junior menjawab. Tak ada konsekuensi untuk senior yang tak bertanya, tapi bagi junior, yang tidak menjawab dapat bugk! #$%^, yang menjawab salah dapat plak! plak! plak! @#$% ^, yang menjawab benar akan ditambah pertanyaannya yang lebih sulit sampai mendapat bugk! atau plak! Begitulah kami membuat hukum untuk kepentingan sendiri, sebagaimana kami dahulu menerima begitu saja definisi junior dua tahun sebelumnya lalu menilainya sebagai potret keadilan dari sudut pandang yang salah. Dan kami, melegalkan tindakan kami dengan stempel lembaga intelektual. Atas nama program pengkaderan mahasiswa, kami menindas adik-adik kami. Sungguh memalukan.

Sejak tadi saya memandangi foto itu, mencoba memahami ekspresi wajah saya dan wajah-wajah lain yang ada dalam foto itu satu per satu. Tapi tak satu pun kutemukan wajah manusia di situ.